Desi Fajariyanti
Abstrak
Sebuah ciri lokal, khususnya dalam bentuk lisan, sebagai akibat dari variasi aksen bahasa Inggris, menyebabkan ketidakadilan bagi performa lisan penutur bahasa tak-asli. Penutur bahasa Inggris tak-asli dengan aksen yang berbeda sering dianggap rumit, kurang cerdas, atau kurang dipercaya dalam komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola penggantian bunyi bahasa Inggris yang beraksen Korea, menganalisis apakah bahasa Inggris yang beraksen Korea melalui video Running Man yang sudah dipilih akan dapat dipahami atau tidak oleh penonton, dan mengetahui pendapat pribadi dan sikap penonton terhadap keberterimaan/ keterpahaman bahasa Inggris beraksen Korea. Kajian dalam penelitian ini melibatkan data dari 23 mahasiswa Sastra Inggris tahun akademik 2010, Fakultas Sastra Universitas Jember sebagai pendengar dan 7 pemain tetap Running Man sebagai sumber tuturan. Pendengar diminta untuk menuliskan kata-kata bahasa Inggris yang terdapat pada beberapa video Running Man terpilih dan menilai performa lisan penutur bahasa (pemain Running Man). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 pola penggantian bunyi bahasa Inggris beraksen Korea, yaitu penambahan huruf vokal [ə], penggantian konsonan ‘liquids’, ‘stopping’, penggantian bunyi ‘voicing’, dan penggantian huruf vokal yang merupakan hasil dari pelafalan pemain Running Man. Selain itu, pelafalan dari bahasa Inggris yang beraksen Korea, secara umum namun tidak sepenuhnya, tidak berterima. Tetapi, ada beberapa kata yang terbukti berterima. Kesimpulannya, sikap mahasiswa tersebut terhadap pemahaman bahasa Inggris yang beraksen Korea menegaskan penolakan karena sebagian besar hasilnya dipandang negatif terutama pada kategori integritas pribadi yang menunjukkan kualitas penutur bahasa dalam melafalkan kata-kata bahasa Inggris.
Kata kunci: keberterimaan, komunikasi lintas-budaya, bahasa Inggris beraksen Korea, World Englishes.