Penggunaan Kalimat Interogatif dalam Bahasa Madura di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo

RINGKASAN

 

Penggunaan Kalimat Interogatif dalam Bahasa Madura di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo; Heri Budiyono; 120110201063; 2016; 112 halaman; Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

 

Kalimat interogatif adalah kalimat yang disampaikan dengan maksud mendapat jawaban berupa informasi, penjelasan, atau pernyataan. Kalimat interogatif berfungsi untuk meminta jawaban berupa penjelasan, untuk menggali  informasi, untuk klarifikasi, atau konfirmasi. Kalimat interogatif juga digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu yang disebut kalimat interogatif tersamar. Permasalahan dalam penelitian ini meliputi (1) apa saja bentuk-bentuk penanda kalimat interogatif pada tingkat tutur enjâ’-iyâ dalam bahasa Madura (selanjutnya disingkat BM) di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo? dan (2) bagaimana fungsi dan tujuan penggunaan kalimat interogatif  BM di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk Penanda serta fungsi dan tujuan penggunaan kalimat interogatif BM di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.

Data dalam penelitian ini berupa data lisan yang terdiri atas tiga jenis, (1) data tuturan yang dilakukan oleh masyarakat Madura di desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, (2) data konteks sebagai penggambaran situasi pada saat tuturan berlangsung, (3) data informan yang diperoleh melalui observasi. Metode penyediaan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak dengan teknik simak libat cakap dan teknik simak bebas libat cakap. Teknik lanjutan yang dipakai adalah teknik catat. Selanjutnya, metode analisis data yang digunakan ialah metode padan pragmatik. Metode padan pragmatik digunakan untuk menganalisis maksud suatu tuturan. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan penyajian informal, yaitu menyajikan hasil analisis dengan uraian kata-kata biasa.

Bentuk-bentuk penanda pada jenis-jenis kalimat interogatif dalam BM tingkat tutur enjâ’-iyâ di Desa Bârighâân, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo terdapat empat jenis. Pertama, kalimat interogatif biasa dengan menggunakan kata tanya apa ‘apa’, sapa ‘siapa’, è dimma ‘dimana’, dâri dimma ‘dari mana’, dâ’emma ‘kemana’, sè kemma ‘yang mana’, bilâ ‘kapan’, bârâmpa ‘berapa’, arapa ‘kenapa’, bârâmma ‘bagaimana’. Kedua, kalimat interogatif retorik atau kalimat interogatif yang tidak membutuhkan jawaban. Ketiga, kalimat interogatif konfirmasi menggunakan kata apa ‘apa’ dan, kalimat interogatif klarifikasi menggunakan kata  enjâ’ ‘tidak’ atau bânni ‘bukan’. Keempat, kalimat interogatif tersamar untuk tujuan memohon, meminta, menyuruh, mengajak, merayu, menyindir, meyakinkan, dan menawarkan sesuatu.

Kalimat interogatif dalam BM dapat difungsikan untuk menyatakan berbagai tindak tutur yang di dalamnya terdapat tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh penutur kepada lawan tutur. Dari analisis data yang ditemukan di Desa Bârighâân Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Tindak tutur yang dapat dinyatakan dengan kalimat interogatif dalam BM terdapat empat tindak tutur. Pertama, tindak tutur representatif yang memiliki tujuan menyapa, menyatakan simpati, mencurigai dan tindak tutur representatif untuk  memuji. Kedua, tindak tutur direktif untuk mengajak, menyuruh, mengingatkan, menyarankan, meminta dan melarang. Ketiga, tindak tutur komisif atau tindak tutur yang membuat penutur melakukan perbuatan di masa yang akan datang yaitu diantaranya tindak tutur komisif untuk mengajak dan tindak tutur komisif untuk menjanjikan sesuatu. Keempat, tindak tutur ekspresif atau tindak tutur yang mengungkapkan sikap penutur tentang sesuatu yaitu diantaranya tindak tutur mengungkapkan rasa heran, mengungkapkan rasa khawatir, mengungkapkan rasa jengkel, terkejut, dan tindak tutur ekspresif berterima kasih.

 

 

 

Written by