Negosiasi Identitas Pribumi dan Belanda dalam Sastra Poskolonial Indonesia Kontemporer

Yusri Fajar
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang
Pos-el: yusfasastra@yahoo.com

Abstrak
Tidak banyak karya poskolonial yang menarasikan negosiasi identitas antara orang Indonesia dan Belanda secara komprehensif sejak Pramoedya Ananta Toer menulis quartet Buru. Namun, beberapa cerita pendek memotret negosiasi identitas khususnya pada era ketika banyak mahasiswa dan imigran Indonesia tinggal di Belanda. Translokasi ini dalam beberapa hal mengindikasikan dekonstruksi sang pusat oleh orang yang berasal dari bekas negara jajahan, pinggiran (koloni). Perpindahan orang dari Indonesia ke Belanda, sebagai konsekuensinya, memunculkan negosiasi identitas di pusat metropolitan serta menciptakan apa yang oleh Hommi K. Bhabha disebut ruang antara. Identitas orang Indonesia dalam karya-karya sastra kontemporer dianggit oleh orang Belanda. Sebaliknya, identitas orang Belanda juga distereotipisasi oleh orang Indonesia. Relasi antara orang Indonesia dan orang Belanda pada masa lampau, di masa kolonial, untuk beberapa hal meliputi anggitan tersebut.

Kata kunci: identitas, kajian poskolonial, Diri, Liyan

TEXT FULL : PDF

Written by