PUISI BUKAN SEKEDAR TERIAKAN

Puisi

Ada yg bilang kalau puisi-puisi yg dibacakan pada JAGONGAN PADHANG (M)BULAN Edisi perdana kurang berani, banyak mengungkap masalah personal; cinta dsb. Pertanyaan balik yg bisa kita ajukan adalah “apakah puisi harus berteriak secara terbuka utk menyuarakan permasalahan sosial? Apakah harus dgn kata-kata pamflet? Apakah tidak boleh mengungkapkan masalah personal?”

Gaya berpuisi terlalu banyak utk diungkapkan; ada yg suka diksi ‘telanjang’, ada yg suka dengan diksi melangit dan meng-alam, ada yg suka diksi lembut romantik, ada yg suka mencampur diksi, dll. Semua tergantung kegemaran penyair dengan segala pertimbangannya.

Belum tentu diksi romantik tidak menyuarakan persoalan sosial semacam ketidakadilan dlm segala bentuknya. Lihat saja puisi-puisi Rendra yg ditujukan utk perempuan, romantik sekali tapi tidak kehilangan sense of social nya.

Lagipula, puisi yg bersifat personal sekalipun berhak ada di jagat sastra. Apakah itu soal cinta, benci, rindu; tidak ada salahnya utk ditulis. Toh, semua soal itu tidak lepas dari persoalan lain yang melingkupi penulis, misalnya cinta hubungannya dgn ketidakadilan jender, cinta dan posfminisme, dll.

Bagi saya pribadi, tidak masalah mau menulis dengan gaya apa, tentang tema apa. Yang pasti dan yang pertama, mari kita menulis dgn ragam sudut pandang tentang masalah personal, komunal, bangsa dan dunia. Itu yang terpenting, soal kritiknya, mari kita serahkan pada para pembaca dan peneliti yg bisa menggunakan bermacam teori.

Salam Purnama,
Ikwan Setiawan
MATATIMOER

Written by