Kisah Inspiratif Alumni: Dari Lulusan Terbaik, Impian Jadi Dosen

JEMBER — Menggapai cita-cita sering kali membutuhkan perjalanan yang berliku, namun keteguhan hati dan prinsip pantang menyerah selalu mampu membuka jalan baru. Pada prosesi yudisium Sarjana 29 Oktober 2026, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember mengundang alumni Sastra Indonesia Drs. H. Pujiyandi, S.H., M.H. untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada lulusannya.

Drs. H. Pujiyandi, S.H., M.H. Lahir di Kendal pada 8 Maret 1966, ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jember (UNEJ) dalam kurun waktu 1984 hingga 1988. Dedikasi akademisnya terbukti saat melangkah ke wisuda, di mana ia berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi di tingkat fakultas, yaitu 3,36.

Pascalulus, semangatnya untuk mengabdi di dunia pendidikan diwujudkan dengan menjadi tenaga pengajar di berbagai sekolah di wilayah Jember dan Bondowoso pada rentang tahun 1988 hingga 1990. Tak hanya mengajar, ia bersama rekannya, Pitoyo (rekan sesama alumni Fakultas Sastra UNEJ angkatan 1984), juga mendirikan lembaga bimbingan belajar.

Namun, impian terbesarnya sejak awal kuliah adalah menjadi seorang dosen. Demi mengejar cita-cita tersebut, ia mengoperasikan ikhtiar secara masif dengan mengirimkan surat lamaran ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi Sastra Indonesia. Perjuangan tersebut sempat menemui jalan terjal tidak ada satu pun perguruan tinggi yang memberikan jawaban positif saat itu.

Kendati menghadapi penolakan, semangatnya tidak padam. Peluang baru hadir ketika Harian Kompas membuka lowongan pekerjaan untuk jurnalis yang akan ditempatkan di Harian Surya, sebuah surat kabar harian pagi yang baru didirikan oleh Kompas Group kala itu. Bersama rekannya, Pitoyo, ia memberanikan diri untuk melamar dan berhasil diterima sebagai wartawan.

“Prinsip hidup saya adalah tidak boleh menyerah. Saya selalu berpikir bahwa saya pasti bisa, dan semua hambatan harus dikejar serta dihadapi agar cita-cita dapat terwujud,” ungkapnya penuh keyakinan.

Setelah enjoy dan menikmati perjalanannya menjalani profesi sebagai wartawan di Harian Surya, Ia sempat mendapatkan undangan untuk menjadi dosen di sebuat PTS di Surabaya. Unitomo waktu itu membalas lamarannya untun mengajar di menjadi dosen di sana. Merasa sudah baik-baik saja, tawaran menjadi dosen di Unitomo pada akhirnya dia lepas dan tetap menjalani profesi yang ia jalani.

Kisah perjalanan ini menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan tidak selalu meluncur di jalan yang lurus, melainkan dibangun di atas ketangguhan, kerja keras, dan keberanian untuk terus melangkah melampaui keterbatasan.

Berita lainnya: Yudisium FIB-UNEJ: Rayakan Kelulusan Generasi Muda sebagai Agen Perubahan di Tengah Tantangan Zaman