Ikuti Lomba Penulisan CerpenTingkat Nasional, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia FIB UNEJ Raih Juara I dan II

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (Sind FIB UNEJ) kembali menorehkan prestasi dalam bidang penulisan kreatif. Kali ini Cindy Virda Amelia Dewi dan Alya Latifatul Fitriyah yang mengharumkan nama institusi atas cerpen yang diciptakannya. Keduanya berhasil menyabet predikat Juara I dan Juara II, yang diumumkan secara daring oleh Juri pada Senin (14/8/2023).
Lomba penulisan cerpen tingkat nasional “AICIFAP 2023” diselenggarakan oleh UKM Forum Studi Islam UNEJ, dalam rentang Juli-Agustus 2023. Dengan tema “Perjuangan Muslimah di Bumi Sang Pencipta”, lombabertujuan be creative and productive, yaknimencetak generasi muslimah yang kreatif dan inovatif dalam bidang penulisan cerpen.Kriteria penilaian mencakup kesesuaian dengan tema (25%), diksi dan gaya bahasa (20%), kerapian penulisan (15%), keunikan karya dan eksplorasi isi (20%), serta mengandung unsur motivasi (20%). Nama Juri tidak disebutkan.

Berdasarkan keputusan Dewan Juri, ditetapkan bahwa Juara I Cindy Virda Amelia Dewi (cerpen “Sepotong Roti yang Harus Dibagi”), Juara II  Alya Latifatul Fitriyah(“Cadar untuk Maysito”), Juara III Devinda Nisa Agustin (“Hadiah Terakhir untuk Bapak”), dan Juara Favorit Deva Qoimatur Rosida (“Allah Tahu, tapi Kamu Harus Menunggu”), masing-masing mendapatkan uang pembinaan dan e-sertifikat.
Cindy dan Alya merasa senang dan bahagia atas prestasi yang diraihnya dalam lomba penulisan cerpen tersebut. Cindy adalah mahasiswa angkatan 2021, sedangkan Alya angkatan 2022, keduanya dari Jurusan Sastra Indonesia.
Dalam komunikasi melalui WA, Cindy mengungkapkan rasa senangnya. Disampaikan bahwa dirinya merasa senang karena ternyata mampu menulis sesuatu di luar tema yang selama inidikuasainya. “Bagi saya, keberhasilan menjadi juara ini merupakan awal dari keseriusan saya menggeluti dunia tulis-menulis. Melalui momentum ini juga, saya semakin terpacu untuk berkarya lebih banyak lagi,” kata Cindy.
Hal serupa juga dirasakan oleh Alya. Dirinya merasa bahagia karena telah berhasil menyabet predikat juara. Kebahagiaan Alya tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga terefleksikan kepada orang tuanya. “Perasaan saya bahagia,sekaligus telah membanggakan orang tua. Meskipun demikian, sebenarnyasaya sedikit tidak percaya, karena saya menulis cerpen ini hanya dalam kisaran waktu dua hari,” jelas Alya.
Sekadar untuk mengenal lebih dekat. Cindy Virda Amelia Dewi memiliki hobi menulis fiksi. Perempuan kelahiran Banyuwangi, 20 Juni 2002, ini memiliki cita-cita menjadi penulis skenario film. Cita-cita tersebut digelutinya dengan mengikuti berbagai lomba karya kreatif, termasuk didukung oleh Mata Kuliah Penulisan Kreatif yang telah ditempuhnya. Cindy berasal dari keluarga sederhana, dua bersaudara, dengan profesi orang tua sebagai penjahit lepas.
Cindy menyukai dunia tulis-menulis sejak SMP. Ketika dirinya menemukan hobi baru, yakni membaca buku-buku fiksi, Cindy mulai fokusbelajar menulis cerita fiksi. Proses kreatifnya juga ditempa oleh pergaulannya dalam komunitas dengan hobi yang sama, termasuk keikutsertaannya dalam berbagai pelatihan dan webinar. “Teman-teman yang lebih ahli dalam penulisan fiksi, juga sering sharing dan memberi masukan terhadap karya saya,” jelas Cindy.
Terkait lomba cerpen yang diikutinya, Cindy hanya mengirim satu cerpen. Motivasinyadalam mengikuti lomba adalahuntuk mengeksplorasi kemampuannya dalam menulis cerpen, terutama terkait tema yang selama ini masih relatif asing bagi dirinya, yaitu perjuangan muslimah. “Saya ingin menulis sesuatu yang berbeda, yaitu menceritakan tokoh secara general tanpa spesifikasi agama di dalamnya,” kata Cindy.
Dalam menyiapkan cerpen “Sepotong Roti yang Harus Dibagi”, Cindy berusaha membacareferensi dan berbagai cerita dariinternet sehingga dirinya mendapat inspirasi tentang satu benda, yaitu sepotong roti yang kemudian dikaitkan dengan masa lalu tokoh utama. Inspirasi tersebut selanjutnya dikolaborasikan dengan pengalaman pribadinya tentang ikatan persaudaraan yang menurutnya seringkali diliputi berbagai perasaan iri, tetapi sebenarnya ada rasa cinta yang mendalam di antaranya. Disebutkan juga bahwa berbagai peristiwa di sekitar kehidupannya, seperti budaya patriarki yang masih kental, utamanya di kalangan orang tua yang masih menganggap anak laki-laki adalah segalanya, juga menginspirasi dirinya. “Pandangan-pandangan itulah yang mendorong dan mempengaruhi saya dalam menuliskan cerpen ini,” jelas Cindy.
Dalam langkah ke depan, Cindy berharap karya-karya yang telahdihasilkannyadapatmemberi hiburan dan menyampaikan pesan tertentu. Selama ini sebagian karya cerpennya telah diterbitkan dalam antologi bersama, terutama karya yang dihasilkan melalui lomba atau sayembara. “Sejak lama saya ingin menerbitkan karya-karya saya dalam antologi tersendiri. Saya juga semakin percaya diri dengan proses menulis ini, sehingga semakin terpacu untuk terus berkarya,” kata Cindy.
Sementara itu, Alya Latifatul Fitriyah, tidak hanya berfokus pada karya penulisan kreatif. Perempuan kelahiran Jember, 7 April 2004, ini bercita-cita untuk selalu membanggakan dan membahagiakan orang tuanya.Alya juga berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan ibunya sebagai guru TK. Mata Kuliah Penulisan Kreatif yang ditempuhnya telah mendorong dan memberi kontribusi bagi dirinya dalam berkarya.
Alya mulai menekuni dunia literasi sejak duduk di bangku SMA. Dirinya merasa lebih mantap dalam melangkah setelah mendapatkan bimbingan dari guru, yang dianggap sebagai guru terbaiknya. “Bapak Ibnu Wicaksono adalah guru terbaik saya. Beliau banyak memberi pengetahuan tentang sastra dan menyeru agar selalu konsisten untuk  produktif di dunia sastra,” kata Alya.
Terkait lomba cerpen yang diikutinya, Alya juga hanya mengirim satu cerpen, yakni “Cadar untuk Maysito”. Motivasinya dalam mengikuti lomba lantaran tertarik oleh tema yang diusung panitia, sekaligus merasa tertantang untuk mencoba kemampuannya dalam menulis cerpen. Dia merasa perlu untuk mencoba secara kompetitif dalam menulis cerpen yang berkaitan dengan perjuangan seorang muslimah. “Dalam lomba ini, saya membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikan cerpen ini,” jelas Alya.
Dirinya berharap, dengan menjadi salah satu pemenang lomba, dapat mendorong agar lebih aktif dan kreatif dalam menulis. “Semoga kedepannya, saya bisa lebih produktif dan lebih kreatif lagi, untuk meningkatkan kualitas karya saya, sehingga dapat bermanfaat bagi orang lain,” tandas Alya.***

Related Posts