Bukan Cuma Berburu Gelar! Yudisium FIB UNEJ Pacu Lulusan Jadi Game Changer Berintegritas & Perekat Bangsa

JEMBER, 19 AGUSTUS 2026 — Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) menggelar acara prosesi Yudisium Periode I Tahun Akademik 2026/2027 yang penuh khidmat di Aula Sutan Takdir Alisjahbana. Dekan FIB UNEJ, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., secara resmi melepas sebanyak 79 lulusan yang terdiri dari 78 Sarjana (S1) dan 1 Magister (S2).

Momen kelulusan ini tidak sekadar menjadi seremoni penyerahan gelar akademik, melainkan panggung refleksi, apresiasi, serta pembekalan bernilai tinggi bagi para lulusan baru untuk siap berdampak, memimpin, dan menjawab tantangan zaman di era global.

Rincian Kelulusan dan Prestasi Lulusan Terbaik

Adapun rincian 78 lulusan program sarjana berasal dari empat program studi unggulan di lingkungan FIB UNEJ, yaitu:

  • Program Studi Sastra Inggris: 33 Sarjana
  • Program Studi Sastra Indonesia: 17 Sarjana
  • Program Studi Ilmu Sejarah: 15 Sarjana
  • Program Studi Seni Televisi dan Film: 13 Sarjana

Dalam yudisium periode ini, penghargaan khusus diberikan kepada dua wisudawati yang mencatatkan prestasi akademis luar biasa:

Kategori PrestasiNama LulusanProgram StudiCapaian Akademik
Lulusan IPK TertinggiAileen Khairana Yudis, S.S.Sastra InggrisIPK 3,95 (Dengan Pujian / Cumlaude)
Lulusan TercepatDinda Wahyu Permatasari, S.S.Sastra IndonesiaMasa Studi 3 Tahun 5 Bulan 7 Hari
Dr. YUSRI FAJAR, S.S., M.A. hadir secara daring

Solusi Nyata & Impact: Pesan Alumni dari Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A.

Para lulusan mendapatkan pembekalan dari alumni Sastra Inggris FIB UNEJ yang kini menjadi akademisi dan dosen di Universitas Brawijaya, Dr. YUSRI FAJAR, S.S., M.A. Hadir secara daring, Dr. Yusri mengajak para yudisi mengubah mindset bahwa kelulusan bukanlah garis akhir (finish line), melainkan titik awal (starting point) dari petualangan karier dan pengabdian yang sesungguhnya.

Yusri mengenang kembali dinamika perkuliahan dan aktivitas seni budaya di Kampus UNEJ, ia menekankan bahwa fondasi keilmuan bahasa, sastra, dan budaya sangat relevan untuk mengasah critical thinking, kecerdasan emosional, serta daya cipta di era modern.

“Kelulusan bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan baru yang harus Anda lakukan. Tetaplah belajar dan tingkatkan kompetensi terus ke masa depan. Ilmu tak akan berarti bila hanya tercantum di transkrip nilai. Gunakan pengetahuan dan keterampilan Saudara untuk bekerja, berkarya, menyelesaikan persoalan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pangkas Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A.

Dr. Yusri juga menyampaikan tiga pesan kunci bagi para yudisi untuk dapat sukses terjun ke dunia kerja:

  1. Continuous Learning: Menjadi pembelajar sepanjang hayat agar tetap adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
  2. Problem Solver: Mengubah wawasan akademis menjadi aksi pragmatis yang mampu menyelesaikan masalah publik.
  3. Soft Skills & Integritas: Memperkuat kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, menghargai perbedaan kreatif, serta memiliki integritas tinggi.

Sebagai pembakar semangat, Dr. Yusri mengutip bait puisi legendaris karya W.S. Rendra:

“Kesadaran adalah matahari,

Kesabaran adalah bumi,

Keberanian menjadi cakrawala,

Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Ia menegaskan bahwa perjuangan sejati seorang sarjana adalah mewujudkan gagasan dan cita-cita menjadi tindakan serta karya nyata yang terukur di tengah masyarakat.

Amanat Dekan: Pendidikan, Integritas, dan Pandangan Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D.

Melanjutkan rangkaian acara, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., memberikan pemikiran kritis dan amanat filosofis. Mengaitkan suasana bulan Agustus dengan semangat kemerdekaan Indonesia, Prof. Nawiyanto mengutip pemikiran tokoh pendiri Amerika Serikat, Benjamin Franklin, yang menyatakan bahwa “Pendidikan atau investasi dalam pengetahuan selalu memberikan hasil yang terbaik.”

Prof. Nawiyanto mengulas sisi historis Benjamin Franklin sebagai saintis penemu penangkal petir dan teori listrik dua kutub, sekaligus tokoh politik bangsa. Beliau membandingkannya dengan figur Bung Karno seorang insinyur visioner yang mengarsiteki dan membangun pilar-pilar kebangsaan Indonesia.

“Menjadi sarjana bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Sebagaimana pesan dari pembimbing saya di Australian National University, Prof. Robert Cribb, bahwa gelar doktor pun baru merupakan awal, apalagi gelar sarjana. Artinya, kita harus menjadi long-life learners pembelajar sepanjang hayat,” ungkap Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D.

Dekan FIB UNEJ menekankan pentingnya menjaga integritas dan martabat keilmuan. Seorang sarjana dan cendekiawan harus memiliki keselarasan antara ucapan, janji, dan perbuatan.

“Jangan sampai ‘besok dele, sore tempe’ kata-kata seorang sarjana harus bisa dipegang dan dipercaya. Antara janji dan aksi harus sejalan. Gunakan bekal dan skill yang telah diperoleh untuk berkontribusi nyata bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” tegas Prof. Nawiyanto.

Diversity & Global Impact: FIB UNEJ Sebagai Simbol Perekat Kebangsaan

Mengakhiri prosesi yudisium, Prof. Nawiyanto menyampaikan rasa bangga atas keberagaman asal daerah para yudiswan periode ini. Lulusan yang diyudisium berasal dari berbagai daerah yang melintasi 5 provinsi di Pulau Jawa, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Provinsi Bali.

Kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang geografis ini membuktikan peran vital FIB UNEJ sebagai wadah inklusif dan miniatur Indonesia. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua, semua dosen, tendik terutama semua alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

“Ini membuktikan bahwa FIB UNEJ adalah perekat kebangsaan. Para alumni adalah duta-duta FIB UNEJ yang siap berkiprah, berkarya, dan mengabdi di berbagai penjuru nusantara bahkan hingga ke mancanegara,” tutur Prof. Nawiyanto.

Dengan ucapan selamat dan rasa haru, pimpinan fakultas melepas para lulusan yang resmi menyandang gelar sarjana dan magister untuk melangkah mengarungi babak baru kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Dokumentasi Yudisium