Pemahaman Siswa terhadap Penggunaan Kata Deiksis dalam Iklan the Jakarta Post

RINGKASAN

Pemahaman Siswa terhadap Penggunaan Kata Deiksis dalam Iklan the Jakarta Post; Dian Septaning Astiti; 2016; Sastra Inggris; Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.

 

Riset ini membahas tentang pemahaman siswa terhadap penggunaan kata deiksis yang terdapat dalam iklan the Jakarta post. Para siswa diminta untuk menemukan dan mengelompokkan deiksis berdasarkan tipenya sesuai dengan teori Levinson (1983). Para siswa tersebut merupakan siswa yang dari jurusan linguistik tahun angkatan 2012, Fakultas Imu Budaya, Universitas Jember. Jawaban dari para siswa akan digunaan sebagai parameter untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam memahami deiksis pada konteks iklan. Selanjutnya, peneliti dapat menarik kesimpulan dari hasil tes siswa serta menentukan jenis deiksis manakah yang banyak menimbulkan masalah bagi para siswa. Manfaat dari riset ini adalah para siswa dapat memahami jenis – jenis deiksis sehingga kesalahpahaman dalam membaca iklan dapat dihindari.

Data dalam riset ini dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Data tersebut memiliki tiga komponen; partisipan, kuisioner, dan iklan – iklan. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis dan menjelaskan jenis deiksis beserta interpretasinya dalam iklan di koran the Jakarta Post. Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk menghitung hasil tes, menentukan kriteria  minimum untuk dapat lolos dalam tes dan mengetahui tingkat kecakapan siswa dalam menginterpretasikan jenis – jenis deiksis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima jenis deiksis, hanya empat tipe yang umumnya digunakan dalam iklan. Pada deiksis orang terdapat 48 kata (63%), deiksis wacana 16 kata (21%), deiksis waktu 7 kata (9%), dan deiksis tempat 5 kata (7%). Hanya enam siswa yang mendapatkan skor tertinggi dan dua puluh dua siswa lainnya mendapatkan skor dibawah kriteria minimum. Terdapat tujuh belas siswa mendapatkan nilai yang buruk dalam memahami deiksis orang, sedangkan sebelas siswa lainnya dapat mencapai skor minimum. Pada deiksis wacana, terdapat dua puluh satu siswa yang digolongkan mendapat kriteria buruk, sedangkan tujuh siswa dapat lolos kedalam kriteria standar. Pada deiksis waktu, terdapat dua siswa yang berhasil dikelompokkan kedalam kriteria minimum, namun dua puluh siswa lainnya tidak dapat menjawab secara benar dalam menemukan deiksis waktu. Terakhir, deiksis tempat. Pada jenis deiksis ini, hal sama terjadi dengan deiksis waktu yang hanya dua siswa yang  dapat meraih kriteria minimum, dan dua puluh siswa mendapatkan nilai yang buruk.

Deiksis orang merupakan jenis deiksis yang banyak digunakan dalam setiap iklan. Hal ini karena para pengiklan mencoba untuk mempengerahui pembaca dengan mengajak berinteraksi. Salah satu taktik dalam mempengaruhi pikiran para pembaca ialah dengan meciptakan kesan ramah dalam setiap kalimatnya. Sedangkan jenis deiksis lainnya berfungsi sebagai informasi tambahan untuk mendukung deiksis orang. Setiap jenis deiksis memiliki fungsinya sendiri, seperti; deiksis wacana digunakan untuk meminimalisirkan penulis dalam menulis istilah yang sama dalam merujuk pada subjek. Deiksis waktu berfungsi sebagai sebuah penanda kapan sebuah kejadian dimulai dan berakhir. Terakhir, deiksis tempat berguna untuk merujuk pada suatu tempat atau ruang didalam iklan.

Berdasarkan dari penjelasan – penjelasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa para siswa gagal untuk menjawab kuisioner karena pemahaman tentang deiksis masih buruk. Faktor lainnya adalah banyak dari siswa menyatakan bahwa bahasa dalam iklan the Jakarta post sulit. Mereka tidak dapat memahami referansi  dalam iklan. Faktor inilah yang pada akhirnya membuat siswa memilh melihat gambar – gambar atau simbol – simbol dibandingkan membaca isi dari iklan.

Written by