Meninjau Kehidupan Seputar Kampus Sastra Universitas Jember (2)

IMG_3966Ibu Marliani

Mungkin banyak yang belum kenal siapa Ibu Marliani?

Rumah Ibu Marliani ini persis disebelah Fakultas Sastra hanya berbataskan tembok seukuran 2meter yang mengelilingi Universitas Jember. Tidak banyak yang kenal beliau, apa kegiatan beliau, dan bersama siapa beliau tinggal, tapi siapa sangka, di usianya yang menjelang senja beliau banyak kenal dengan dosen-dosen seusianya dimasa tahun 1980 sampai sekarang, sebut saja Prof. Dra. Sri Surani (Alm) adalah salah satu rekannya yang ketika beliau tahu bahwa Prof. Surani telah meninggal, beliau sempat menitikkan airmata mengenang masa-masa indah bersamanya.

Beliau juga menuturkan, banyak mahasiswa Fakultas Sastra yang dulu sering berkumpul di rumah kontrakan P.Arif (dosen FKIP) juga P.Ikwan (dosen Sastra) bersama Gatot Wijanarko kadang mereka kalau ingat juga sering mampir kesini, terang Ibu Marliani.

Ibu Marliani dimasa mudanya adalah aktifis lingkungan dan pelatih senam adalah salah satu yang sering menjadi instruktur senam di Kabupaten Jember ini banyak dikenal oleh pejabat baik Pejabat Kabupaten, BUMN, PTPN, bahkan Universitas Jember sendiri sering mengundangnya untuk berlatih senam. Sebut saja Pakde Bagio masih sering bertemu dan berlatih senam bersama sampai sekarang. Saya masih menyimpan sertifikat pelatih senam tingkat Nasional, kata Ibu Marliani.

Ibu Marliani yang berasal dari Garut ini mengaku enggan untuk menjadi guru atau dosen, karena tanggungjawabnya sangat besar.. Ibu Marliani lebih suka berpetualang ke alam dan mengikuti organisasi seperti Dharmawanita dan melatih senam. Ibu Marliani yang memilik dua putra dan satu putri ini merasa bangga dan senang dapat terus beraktivitas walaupun usianya sudah lebih dari setengah abad.Masih belum kenal juga?

Tidak ada salahnya dan boleh jadi pengalaman Ibu Marliani dalam berorganisasi dan keahliannya dalam melatih senam boleh jadi bisa memberikan wawasan baru bagi kita untuk selalu peduli akan lingkungan disekitar kita. Sebagai fakultas ilmu sosial seperti Fakultas Sastra tentu saja diperlukan interaksi sosial yang lebih baik dibandingkan dengan ilmu eksakta. Boleh jadi hal-hal yang sepertinya ringan dan bahkan mungkin dianggap tidak penting justru akan menjadi lebih lebih bermakna. Penelitian dan Pengabdian untuk mencari titik kultur berkehidupan sosial akan lebih baik jika dimulai dari yang terdekat dengan lingkungan kita. Siapa sangka Ibu Marliani menyimpan segudang prestasi dan pengalaman yang baik untuk menjadi tauladan bagi kehidupan kita dimasa kini dan mendatang. Masa boleh berganti, teknologi boleh lebih canggih, tetapi kehidupan bermasyarkat dan kepedulian akan lingkungan harus tetap kita jaga.

Kalau anda sering makan atau sekedar ngopi di warung Mak No, maka rumah Ibu marilian hanya 2 rumah sebelah kiri warung Mak No. Rumah yang juga sudah seiring dengan usia Ibu Marliani itu tidak sulit untuk didatangi. Keramahannya dan kebesaran hatinya untuk bercerita masa mudanya adalah ciri khas dari orang Indonesia yang selalu menjunjung tinggi adat dan budaya Indonesia, yaitu ramah, murah senyum, bertutur kata yang baik, sopan dan bersahaja.

Masih banyak orang-orang seperti Ibu Marliani yang hidup disekitar kampus Universitas Jember, tetapi sudah tidak banyak orang yang peduli akan kehidupan seputar kampus, lebih banyak kos-kosan mahasiswa diseputar kampus dengan kehidupan yang semakin mengikis budaya ramah, tutur kata yang baik, sopan dan bersahaja seperti Ibu Marliani. (/bob)

Baca Juga :

Written by