MENIKMATI PROSES MENUJU PADHANG (M)BULAN

Puisi01

Bersastra, berkesenian, dan berkebudayaan bukanlah sebuah proses instan. Sesederhana apapun sebuah tulisan, sebuah pagelaran, tetap membutuhkan perbincangan, pengendapan, dan penciptaan yang membutuhkan keseriusan energi fisik, mental, dan pikiran.

Kawan-kawan Dewan Kesenian Kampus dari sore sampai menjelang pagelaran Padhang (M)Bulan edisi perdana menyiapkan panggung sederhana secara serius. Tidak ada kebenaran bahwa panggung hanya menjadi pelengkap. Panggung adalah sebuah tafsir semiotik terhadap isi dan keinginan sebuah pagelaran. Ranting, serak kertas, awan, cahaya, menjadi elemen yang diperhatikan oleh Beny Widiaputra sebagai stage manager (kecil-kecilan) pada acara ini. Dan, hasilnya, meskipun sederhana, makna padhang (m)bulan lumayan hadir.

Demikian pula dengan para penampil (pembaca puisi) mampu menghadirkan suguhan yang menyatukan tafsir makna dengan artikulasi suara dan gerak tubuh. Beberapa pembaca adalah para pemula, tetapi mampu menghadirkan atmosfer yang asyik.

Diskusi juga berlangsung gayeng. Kalau saja tidak ada batasan waktu kegiatan di malam hari, niscaya, para peserta akan ikhlas untuk jagongan sampai dini hari. Tapi, tidak ada masalah, yang terpenting adalah adanya gairah untuk mendapatkan wacana-wacana baru terkait puisi dan proses kreatif dari kedua penulis.

Salam Purnama,
IKWAN SETIAWAN
MATATIMOER

Ikwan Setiawan's photo.
Ikwan Setiawan's photo.
Ikwan Setiawan's photo.
Ikwan Setiawan's photo.
Ikwan Setiawan's photo.
+6

Written by