Awali 2022, HISKI Komisariat Jember Siapkan Webinar Bedah Film

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Komisariat Jember) menyiapkan Webinar rutin bulanan dengan tajuk NGONTRAS#6 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-6), dengan mendiskusikan film atau bedah film. Ketika dihubungi, Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum., ketua HISKI Komisariat Jember, menjelaskan bahwa film merupakan refleksi dan sekaligus proyeksi dari kehidupan, sehingga menarik untuk didiskusikan.

Dijelaskannya bahwa film bukan sekadar karya imajinatif dalam wujud visual, melainkan hasil perenungan sekaligus gambaran tentang pesan yang ingin disampaikan oleh sang kreator. Ia merupakan potret kehidupan sekaligus sebagai media edukasi dalam meningkatkan literasi masyarakat. “Film juga menjadi gambaran dinamika peradaban,” kata Heru, yang juga dosen di Jurusan Sastra Indonesia FIB UNEJ.

Acara akan digelar kerja sama antara HISKI Komisariat Jember, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (Sind FIB UNEJ), Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (PSTF FIB UNEJ), dan Kelompok Riset Film dan Televisi (KeRis FITSI), Sabtu mendatang (22/1/2022).

Pembicara yang akan menjadi narasumber adalah Sazkia Noor Anggraini, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta (PSFT FSMR ISI Yogyakarta), dan Fajar Aji, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember (PSTF FIB UNEJ), dengan moderator Soekma Yeni Astuti, S.Sn., M.Sn., anggota HISKI Komisariat Jember sekaligus dosen PSTF FIB UNEJ.

Fajar Aji ketika dihubungi menjelaskan bahwa film pendek hasil karyanya yang akan didiskusikan adalah film pendek “Putih Kembali Putih” dan film “Ngilo”. Film “Putih Kembali Putih” berkisah tentang arti penting air putih/bening untuk kehidupan dan kesehatan, kini dan mendatang. Sementara itu, film “Ngilo” berkisah tentang momen menularkan nilai-nilai Pancasila secara praktikal, bukan konseptual. Kedua film tersebut dapat ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=KqwjOy9nxLo&t=5s&ab_channel=Nglencer-FajarAji dan https://www.youtube.com/watch?v=a6jJHuQ4O48&t=69s&ab_channel=Nglencer-FajarAji.

Selain menjadi pengajar dan kreator film, Fajar juga sering menjadi juri film, desain grafis, dan poster. Selain itu, dirinya juga sering menjadi fasilitator dalam berbagai workshop, baik dalam rangka pembuatan film, desain grafis, maupun logo. Terkait karyanya yang akan didiskusikan, Fajar menjelaskan bahwa film “Putih Kembali Putih” diperankan oleh Dina, salah satu dari sekian perempuan yang tidak suka mengkonsumsi air putih. Ketidaksukaan Dina mengkonsumsi air putih menjadikannya mudah membuang-buang air putih dan mengkonsumsi minuman berwarna (instan). Kebiasaan buruk membuang air putih bekal dari Ibunya dan ketidaksukaan mengkonsumsi air putih tersebut berubah ketika Dina bertemu seorang anak kecil sewaktu pulang sekolah dengan ikan mas yang terjatuh di hadapannya. “Dengan momen itu, sehingga Dina DARI tidak suka mengkonsumsi air putih men-JADI suka mengkonsumsi dan menyadari pentingnya air putih atau air bersih bagi kehidupan,” kata Fajar.

Fajar juga menjelaskan bahwa film “Putih Kembali Putih” diproduksi tahun 2014 dengan melibatkan sebagian besar pemain adalah mahasiswa. Proses praproduksi kurang lebih selama dua bulan mulai dari bedah naskah hingga sampai persiapan produksi. Produksi dilakukan sangat sederhana dengan menggunakan sistem produksi single kamera, menggunakan pencahayaan yang tersedia di lokasi produksi. “Produksi dilakukan selama dua hari berdasarkan pertimbangan waktu dan tempat. Proses pascaproduksi dilakukan selama kurang lebih satu bulan,” jelas Fajar.

Sementara itu, film “Ngilo” merefleksikan edukasi nilai-nilai Pancasila. Dikisahkan, suatu pagi, Hendro membelikan gorengan dan minuman di warung Maria untuk membantu acara gotong royong renovasi rumah Pak Warto. Pada waktu yang bersamaan tiga anak SMA mampir ke warung Maria setelah pulang sekolah. Pertemuan Hendro dan tiga anak SMA di warung Maria menghasilkan obrolan hasil respons video kuis Pak Jokowi di Youtube hingga Pancasila.

Film “Ngilo” diproduksi tahun 2017 dan secara umum sama seperti film “Putih Kembali Putih”  dengan melibatkan sebagian besar pemain adalah mahasiswa. Proses praproduksi kurang lebih selama satu bulan mulai dari bedah naskah hingga sampai persiapan produksi. Produksi dilakukan selama satu hari full mulai dari pagi sampai sore. Proses pascaproduksi dilakukan selama kurang lebih tiga minggu.

Fajar menjelaskan bahwa film “Putih Kembali Putih” mencoba memberikan gambaran pentingnya peran air putih untuk masa depan, baik untuk manusia maupun kehidupan. Film ini telah diikutkan dalam ajang FIFGROUP Short Movie Competition, dan berhasil sebagai Juara 2 (director). Melalui film ini diharapkan siapa pun yang menonton dapat menghargai pentingnya air putih atau air bersih. “Semoga film ini dapat memberikan gambaran sekaligus mengubah perilaku konsumtif, khususnya bagi generasi muda dalam mengkonsumsi minuman instan,” tandas Fajar.

Sementara itu, film “Ngilo” merupakan capture kegiatan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sedikit banyak mulai berkurang, salah satunya adalah “gotong royong”. Padahal banyak aktivitas masyarakat tersebut yang sebenarnya merupakan bagian dari pengamalan Pancasila. “Melalui pengambaran dua generasi dalam film ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali semangat kebersamaan dan mengamalkan setiap sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara aplikatif, tidak dalam bentuk hafalan,” jelas Fajar.

Sebagai tenaga pengajar, Fajar dalam berkarya tidak hanya mengutamakan idealisme semata, tetapi juga mempertimbangkan edukasinya kepada mahasiswa. Banyak karya audio visual yang telah dihasilkan sejak tahun 2006 hingga sekarang. Sekadar menyebut beberapa karya, di antaranya “Refleksi” (film pendek, 2006) dalam rangka Festival Kesenian Indonesia (FKI) Bandung, “Si Madu dari Cilembu” (feature, 2012) menjadi juara 1 (director of photography) pada kompetisi di Kementrian Pertanian, “Hargai Waktu” (iklan layanan masyarakat, 2013) menjadi juara 3 (director) pada kompetisi di Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. “Pengabdian Terbaik” (film pendek, 2015) dalam rangka Kreasi Film Pendek Polri, serta “Kunanti” (2021) dan “Kutinggal” (2021) dalam rangka Bimbo Films Australia Global Alumni. Khusus untuk film “Putih Kembali Putih” dan “Ngilo”,  pembuatannya dilakukan dalam rangka melakukan kolaborasi produksi antara pengajar dengan mahasiswa. “Proses ini untuk menumbuhkan atmosfer berkarya bagi mahasiswa,” tandas Fajar.

Peserta yang akan mengikuti acara NGONTRAS#6, Sabtu, 22 Januari 2022, pukul 10.00—12.00 WIB (ruang zoom dibuka pukul 09.30 WIB), tidak perlu mendaftar dan cukup klik pada Join Zoom Meeting: https://bit.ly/NGONTRAS-6, Meeting ID: 955 8331 6677. Peserta yang belum masuk Grup WA, diharapkan masuk grup dengan tujuan untuk memudahkan mendapatkan informasi kegiatan NGONTRAS berikutnya, dengan klik https://bit.ly/GRUPC_NGONTRAS.

Peserta juga dapat mengunjungi Portal HISKI Jember untuk mengunduh secara gratis file buku dan prosiding, dengan klik http://hiskijember.fib.unej.ac.id/. Atau menyaksikan rekaman NGONTRAS sebelumnya melalui Kanal Youtube HISKI JEMBER OFFICIAL dengan klik https://bit.ly/YoutubeHISKIJember.

Written by