JEMBER, 22 Januari 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember sukses menyelenggarakan prosesi Yudisium Magister dan Sarjana Periode V Tahun Akademik 2025/2026. Acara yang berlangsung khidmat tersebut digelar di Aula Sutan Takdir Alisyahbana dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, serta orang tua wali.

Dekan FIB Universitas Jember, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., dalam sambutannya mengenang kembali perjalanan para yudisi sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus.
“Saya ingat empat atau lima tahun yang lalu, Anda datang sebagai mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Budaya. Saat itu, Anda masih lugu dan belum mengenal bedak, lipstik, parfum, hingga esedo. Namun hari ini, setelah dinyatakan lulus, kami melihat Anda telah tumbuh dewasa dan semerbak harum mewangi,” ujar Prof. Nawiyanto dengan nada haru.
Beliau berharap perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari penampilan fisik, tetapi juga tercermin dalam kedewasaan berpikir dan karakter yang kuat untuk menjaga serta mengharumkan nama baik almamater tercinta di tengah masyarakat.
Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para yudisi atas keberhasilan mereka menyelesaikan studi. Beliau menekankan bahwa kelulusan ini merupakan buah dari kerja keras mahasiswa dan dukungan penuh dari orang tua.
Filosofi Hidup dan Resiliensi Prof. Nawiyanto membagikan pesan mendalam mengenai filosofi hidup yang penuh dengan tantangan. Menurutnya, masalah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi manusia, baik saat menjadi mahasiswa maupun setelah lulus.
“Menjadi mahasiswa itu tentu banyak masalah, masalah dengan teman, masalah dengan dosen dan sebagainya. Boleh jadi tidak hanya orang hidup, orang mati pun ada masalahnya,” terang Prof. Nawiyanto.
Belajar dari Keteguhan Bung Karno Prof. Nawiyanto memberikan tamsil melalui kisah hidup Sang Proklamator, Ir. Sukarno, yang menurutnya merupakan contoh nyata bagaimana masalah besar bisa diubah menjadi kekuatan besar.
“Beliau dalam hidupnya juga banyak masalah, beberapa kali dipenjara. Namun, Bung Karno justru menghadapi masalah di jeruji penjara tersebut dengan banyak belajar dan menguasai banyak bahasa,” jelas Prof. Nawiyanto.
Ia menegaskan bahwa jika tokoh besar seperti Bung Karno saja tidak luput dari persoalan, maka mahasiswa pun harus siap menghadapi dinamika serupa. “Menjadi mahasiswa tentu banyak masalah, mulai dari masalah dengan teman hingga dosen. Boleh jadi tidak hanya orang hidup, orang mati pun ada masalahnya,” tambahnya. Ia mengajak para lulusan untuk mengambil hikmah dari setiap masalah agar menjadi pribadi yang kuat dan sukses.
Beliau mendorong para lulusan untuk tidak menghindari masalah, melainkan menjadikannya sebagai batu loncatan. Dengan mengambil hikmah dari setiap persoalan, seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap meraih kesuksesan di masa depan. Beliau juga berpesan agar para alumni tetap bersabar dan terus berjuang melewati masa transisi pasca-kampus.
Harapan bagi Alumni Dekan FIB tersebut berharap para alumni terus memperbarui diri (update) dalam menjalani fase kehidupan berikutnya, baik itu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, memasuki dunia kerja, maupun memulai kehidupan berkeluarga.

Capaian Prestasi Lulusan Pada periode ini, predikat lulusan terbaik diraih oleh Rose Putri Yulianti, S.Sn. dari Program Studi Televisi dan Film dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,85.
Dalam kesan dan pesannya, Putri mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh civitas akademika FIB UNEJ. “Kami mewakili yudisi menyampaikan banyak terima kasih dan permohonan maaf kepada Dekan, dosen, dan lembaga yang telah banyak memberikan motivasi hidup dan ilmu sebagai bekal kami,” ungkapnya.
Bagi Putri, kelulusan ini bukanlah titik akhir. Ia berkomitmen untuk menggunakan bekal ilmu yang didapat selama di bangku kuliah sebagai senjata utama untuk menaklukkan tantangan hidup yang sebenarnya.
download foto yudisium disini

