JEMBER, 5 Januari 2026 – Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti Aula Sutan Takdir Alisjahbana, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember, pada Senin pagi. Keluarga besar Program Studi Sejarah berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir dalam acara pelepasan purna tugas Drs. Nurhadi Sasmita, M.Hum., sosok dosen senior yang telah mengabdi selama puluhan tahun.
Drs. Nurhadi Sasmita resmi memasuki masa purna tugas terhitung sejak 1 Januari 2026. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, rekan sejawat, serta para dosen muda yang menganggap beliau sebagai figur teladan.
Keteladanan dan Kesabaran dalam Membimbing
Ketua Program Studi Sejarah, Dr. Eko Crys Endrayadi, dalam sambutannya mengenang perjalanan panjang bersama Pak Nurhadi sejak 27 tahun silam. Ia menyoroti perjuangan mereka dalam tim SP4 yang jatuh bangun demi meningkatkan fasilitas pembelajaran di prodi Sejarah.
“Banyak kenangan pahit manis dalam mengembangkan prodi ini. Hal yang paling sulit saya pelajari dari Pak Nurhadi adalah sifatnya yang tidak mudah marah dan sangat telaten dalam membimbing mahasiswa maupun bertugas di Komisi Bimbingan (Kombi). Beliau adalah tauladan bagi kami semua,” ungkap Eko. Sebagai penutup kesan, Eko menyebut lagu “Sewu Kuto” karya Didi Kempot akan selalu menjadi melodi yang mengingatkan rekan-rekan pada sosok Pak Nurhadi.
Persahabatan Lebih dari Tiga Dekade
Dekan FIB Universitas Jember, Prof. Nawiyanto, turut membagikan kenangan personal yang mendalam. Mengenal Pak Nurhadi selama 34 tahun sejak masa kuliah di UGM pada tahun 1984, Prof. Nawiyanto mengapresiasi ketelitian beliau dalam pengembangan kurikulum.

“Saya ingat betul dedikasinya. Pak Nur adalah sosok yang sabar dan detail. Kita semua harus bersyukur dan belajar dari beliau bahwa bisa mencapai masa pensiun dalam keadaan sehat adalah sebuah kebahagiaan sejati,” ujar Prof. Nawiyanto. Ia juga berpesan agar seluruh staf pengajar terus menjaga kebaikan dan integritas hingga masa purna tugas tiba.
Refleksi 36 Tahun Mengabdi: Dari Klompencapir hingga Impian Budaya
Dalam sambutan perpisahannya, Drs. Nurhadi Sasmita didampingi oleh salah satu dosen muda, Enggar—yang secara seloroh disebutnya sebagai “cucu” dalam silsilah akademik—menyampaikan refleksi perjalanan kariernya sejak tahun 1989.

Salah satu kisah ikonik yang dibagikan adalah saat ia mendampingi kelompok Klompencapir “Lestari” di Madiun bersama musisi kentrung, Pak Ilham. Kisah tersebut melibatkan kesalahpahaman administrasi dengan Dekan legendaris saat itu, Alm. Soedardi, yang akhirnya berakhir dengan permintaan maaf sang pimpinan sebuah pelajaran tentang sportivitas kepemimpinan yang ia pegang teguh.
Di akhir masa jabatannya, Nurhadi menitipkan sebuah harapan besar untuk almamaternya:
“Saya punya angan-angan agar kesenian ‘Kentrung Joss’ bisa diaktifkan lagi di kampus kita. Saya ingin kesan Ilmu Budaya di Universitas Jember ini bisa semakin mendunia melalui pelestarian seni seperti keroncong dan kentrung,” harapnya.
Acara ditutup dengan permohonan maaf tulus dari Drs. Nurhadi atas interaksi selama 36 tahun masa pengabdiannya, diikuti dengan pemberian cinderamata dan sesi foto bersama sebagai simbol penghormatan atas dedikasi tanpa batas Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

