Bahas Tradisi Jaran Goyang, ATL Jogja Undang Akademisi UNEJ dan Praktisi AMAN

Asosiasi Tradisi Lisan Daerah Istimewa Yogyakarta (ATL DIY/Jogja), bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), dan Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BB DIY) usai adakan Serial Seminar Nasional Tradisi Lisan bertajuk Melestarikan Tradisi Lisan Nusantara dengan tema “Jaran Goyang: dari Mantra ke Tari.”

Dalam membahas tradisi Jaran Goyang tersebut, ATL Jogja mengundang akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ), Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. dan praktisi dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Banyuwangi, Indah Pratiwi, S.Sos. Seminar rutin dua mingguan tersebut digagas dan dikoordinatori oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phill., guru besar antropologi dari FIB UGM, dengan moderator Dr. Restu Sukesti, M.Hum., dari BB DIY, berlangsung Senin (15/11/2021).

Narasumber pertama, Heru S.P. Saputra, dalam paparannya menjelaskan bahwa dalam masyarakat Using (Banyuwangi) banyak dikenal jenis mantra, salah satunya mantra Jaran Goyang. Dalam perkembangan zaman, mantra tersebut mengalami transformasi menjadi bentuk lain, di antaranya menjadi rajah, puisi, musik, dan tari dengan nama atau judul yang sama, yakni Jaran Goyang. Dijelaskannya bahwa fenomena tersebut menunjukkan adanya perkembangan peradaban, yakni dari peradaban lisan, khirografik (tulisan), tipografik (cetakan), hingga elektronik. “Produk budaya sakral dapat ditransformasikan dalam produk budaya yang profan, dengan mengutamakan unsur hiburan,” kata Heru.

Heru juga menjelaskan bahwa salah satu bentuk transformasi yang cukup populer adalah tari Jaran Goyang, yang kini dapat disaksikan di channel Youtube. Tari Jaran Goyang pada mulanya diciptakan oleh Suparman, dkk. pada tahun 1965/1966, dengan jumlah penari kolektif. Namun, dalam perkembangannya, perlu dilakukan penyempurnaan, sehingga Sumitro Hadi pada tahun 1969 melakukan perubahan-perubahan, dengan tujuan agar tarian menjadi lebih menarik. Perubahan tersebut meliputi nama tari menjadi Aji Jaran Goyang, jumlah penari menjadi dua orang, tempo (timing), pola lantai, kreativitas gerak, nilai hiburan, dan munculnya konflik cinta muda-mudi.

Sementara itu, perubahan yang dilakukan oleh Subari Sufyan pada tahun 1999, menkankan dramatisasi konflik yang lebih mengundang emosi penonton. Nama tari menjadi Jaran Goyang Aji Kembang, dengan jumlah penari tiga orang, dengan sentuhan-sentuhan emosi. Penekanan agar menjadi lebih menarik terletak pada dramatisasi konflik, yakni munculnya cinta segi tiga (laki-laki penggoda terhadap pasangan suami-istri), dengan akhir tarian berupa pertengkaran/peperangan dua laki-laki di antara satu perempuan. “Meskipun terdapat dinamika dan versi tarian yang berbeda, pada umumnya masyarakat tidak mempedulikannya, dan yang mereka ketahui hanya tari Jaran Goyang,” kata Heru.

Dalam menjawab pertanyaan, Heru menjelaskan bahwa meskipun ditransformasikan dari mantra yang sakral, tari Jaran Goyang tidak diniatkan sebagai tari yang sakral. Koreografi yang diciptakan sejak Suparman, Sumitro Hadi, hingga Subari Sufyan, menekankan pada sisi profan dan hiburan. Penari tidak mengalami kesurupan sebagaimana tari dalam ritual Seblang. Tari Jaran Goyang bukan dilakukan dalam rangka ritual adat, melainkan sebagai tari populer yang bersifat hiburan. “Tari Jaran Goyang banyak dipentaskan dalam berbagai acara, mulai dari acara pernikahan, sunatan, hingga penyambutan tamu,” kata Heru.

Narasumber kedua, Indah Pratiwi, dalam paparannya menjelaskan bahwa dirinya adalah penari tradisi, termasuk penari Jaran Goyang. Inti dari tari Jaran Goyang adalah ditolaknya rasa cinta laki-laki oleh seorang perempuan, kemudian laki-laki tersebut menggunakan ajian Jaran Goyang yang disimbolkan kembang atau bunga. Dengan dilemparkannya bunga oleh laki-laki kepada perempuan, maka perempuan tersebut berbalik menjadi jatuh cinta karena telah terkena ajian Jaran Goyang, yang sebelumnya menolaknya. Akhir kisah, keduanya menyatu dalam asmara. “Kisah dalam tari Jaran Goyang secara umum demikian, meskipun ada versi yang berbeda,” kata Pratiwi.

Pratiwi, atau yang akrab dipanggil Tiwi, menyampaikan bahwa menjadi penari merupakan pilihan, dan tari yang paling menarik menurutnya adalah tari Jaran Goyang. Perempuan lulusan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ) yang sekarang aktif di AMAN Banyuwangi ini menekuni tari sejak tahun 2001, terutama tari tradisi, baik tari tunggal maupun massal. Kemudian mulai tahun 2008 menekuni tari kontemporer, dan sejak tahun 2013 telah membentuk kelompok tari. Dijelaskan bahwa dalam pengalamannya menarikan berbagai tari, yang menarik dan menantang adalah tari Jaran Goyang. “Tari ini menurut saya merupakan tarian yang sangat menegangkan, karena tidak sedikit kejadian-kejadian yang tidak terduga terjadi setelah menari Jaran Goyang. Misalnya, cinlok atau cinta lokasi, kesalahpahaman pasangan, pandangan buruk masyarakat, dan bisa juga terkena ajian Jaran Goyang,” kata Tiwi.

Tiwi juga menjelaskan bahwa dirinya beberapa kali menarikan tari Jaran Goyang, baik di acara pernikahan, acara adat, maupun acara penyambutan tamu. Dirinya merasa senang menarikan tari Jaran Goyang, karena dapat menghibur penonton dengan akting-akting yang dilakukan saat menari dengan pasangan, saling berbagi pengalaman dengan pasangan menari, belajar dan mengajarkan satu sama lain, dan saling memberi kode saat ada yang kurang tepat ditarikan. “Menari Jaran Goyang dapat mengekspresikan totalitas akting, sehingga selalu menantang dan menyenangkan,” jelas Tiwi.

Written by