Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Oct 14, 2016 in Berita, feature categori | 2 comments

Pidato Ilmiah “Optimalisasi Seni Pertunjukan: Kontestasi Negara, Pasar, dan Agama”

Pidato Ilmiah “Optimalisasi Seni Pertunjukan: Kontestasi Negara, Pasar, dan Agama”

IMG_4829

Pidato ilmiah yang disampaikan dalam pengukuhannya sebagai guru besar Universitas Jember (12/10), Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum mengambil judul “Optimalisasi Seni Pertunjukan: Konsentrasi Negara, Pasar, dan Agama”

Prof. Novi Anoegrajekti memaparkan konsistennya kepemimpinan di Banyuwangi dalam membangun peradaban kebudayaannya. Lebih lanjut Novi menunjukkan konsistensi dalam empat dekade kepemimpinan di Banyuwangi, yaitu:

  1. Dalam kepemimpinan Bupati T. Purnomo Sidik (1995-2000), Beliau membukia kebijakan dalam bidang budaya yang kaitannya dengan pariwisata. Banyuwangi yang semula merupakan wilayah kerajaan Belambangan memiliki latar belakang sejarah yang unik. Melalui keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 401 Tahun 1996 tentang penetapan (Desa Kemiren) sebagai lokasi desa wisata Using di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi, oleh Bupati T. Purnomo Sidik. Di tengah desa terdapat Anjungan Wisata seluas 1800M2 yang awal pendiriannya sebagai pusat ajang kegiatan kesenaian khas Using seperti tari gandrung maupun barong yang menjadi bagian dari desa wisata Using, yaitu anjungan Sanggar Barong Lancing Sapu Jagat, dan Sanggar Barong Tresno Budoyo. Anjungan itu kini menjadi tempat rekreasi konvensional dengan dua kolam renang yang menjadi andalannya. Penetapan tersebut berdampak pada perkembangan kelompok seni pertunjukan yang ada di Kemiren yang merupakan salah satu konsentrasi hunian masyarakat Using.
  2. Kepemimpinan Bupati Samsul Hadi (2000-2005) mengajak masyarakat Banyuwangi dengan memunculkan semboyan Jenggirat Tangi ‘cepat bangun’ yang mengandung maksud menghidupkan nilai budaya Using dalam masyarakat. Kebijakan yang berkaitan dengan kebudayaan secara lebih spesifik dimaksudkan untuk mendukung pariwisata berupa penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata Banyuwangi tahun 2001.
  3. Bupati Ani Lestari  (2005-2010) dikenal dengan semboyan Gerakan Banyuwangi Ijo Royo-royo ‘serba hijau’ yang memfokuskan pada terciptanya lingkungan alam yang bersih, sejuk, indah, asri, dan nyaman. Selain itu, mengingat Banyuwangi memiliki akar budaya rural agraris, kebijakan tersebut juga sebagai upaya peningkatan kesejahteraan petani Banyuwangi, juga sebagai pendukung Banyuwangi sebagai kota wisata khususnya wisata alam dan wisata agro.
  4. Bupati Abdullah Azwar Anas dengan Pendekatan Sistemik dengan cara menghimpun dan menyatukan kegiatan budaya yang tersebar di berbagai tempat  ke dalam Calender Banyuwangi Festival (CBF) yang dipublikasikan melalui Web resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan dapat diakses oleh masyarakat global (Anoegrajekti, 2016: 68-83; Macaryus dan Aneograjekti, 2016: 29-50). Beberapa kegiatan besar diselenggarakan di pusat kota, seperti Festival Gandrung Sewu, Festival Kuwung, dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), sedangkan kegiatan lainnya diselenggarakan di tempat asal budaya tersebut, seperti Seblang Olehsari, Seblang Bakungan, Keboan Aliyan, Barong Ider Bumi Kemiren, dan Petik Laut Muncar.

 Novi ACurriculum Vitae

Nama                 : Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum

NIP                     : 196611101992012001

Ttl                       :  Malang, 10 November 1966

Jabatan              : Profesor

Pangkat/Gol     : Pembina / IVa

Alamat Rumah : Jalan Semeru B-1 Jember

Telepon              : 081584654042

e-mail                 : novianoegrajekti.sastra@unej.ac.id

2 Comments

  1. Permasalahan kebudayaan lokal (Using Banyuwangi) bila dicermati dan dipahami kemudian dikaji dan dianalisis oleh ahlinya akan memunculkan spektrum kebudayaan yang amat menarik. Prof Dr Novi Anoegrajekti salah satu akademisi yang tepat untuk itu. Berbekal keprofesorannya kebudayaan lokal (Using Banyuwangi) menjadi sangat menarik sebagai bahan kajian selanjutnya. Selamat ya Nov, semoga amanah dan barokah. Amin yra. (A Latief Wiyata).

  2. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, permasalahan kebudayaan lokal (seperti Using Banyuwang) memang menarik untuk menjadi kajian. Apakah perhatian Kepala Daerah kepada kebudayaan lokal di wilayahnya seperti kasus di Kabupaten Banyuwangi dapat menjadi spirit masyarakat di daerah tersebut untuk mewujudkan cita-cita mereka meraih kehidupan yang adil dan makmur? Selamat untuk Ibu Prof Dr Novi Anoegrajekti yang peduli dengan permasalahan kebudayaan lokal. Hasil kajian Ibu terhadap kebudayaan lokal di Kabupaten Banyuwangi semoga menjadi inspirasi daerah lain untuk memajukan daerah tersebut seperti apa yang yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Jika di daerah lain Menak Jinggo sebagai tokoh legenda Banyuwangi dalam lakon ketoprak selalu digambarkan sebagai orang yang cacat dan dikhianati istrinya, maka di Banyuwangi Menak Jinggo diubah karakternya menjadi tokoh Rambo yang heroik. Rekayasa budaya itu dilakukan untuk mengembalikan spirit masyarakat Banyuwangi agar selalu semangat untuk mengejar ketertinggalan mereka di segala aspek kehidupan. (Pujihandi)

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »