Pementasan Teater Sampek-Engtay DKK Luar Biasa

11407299_714121572031029_135558768868959048_nDewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Sastra Universitas Jember bikin gebrakan besar. Sebuah perhelatan teater digelar pada malam (7 & 8 Juni 2015) di halaman Fakultas Sastra. Naskah yang diangkat adalah “Sampek – Engthay” karya N. Riantiarno (Teater Koma). Cerita yang berasal dari daratan Cina ini memang sudah sejak lama populer di Indonesia. Ketika saya masih kanak-kanak (sekitar thn.1970-an), saya pernah menonton pertunjukan ludruk yang mengangkat cerita ini, kata Drs. Moch. Ilham, M.Si.

Pertunjukan oleh DKK ini berdurasi 3 jam lebih 20 menit. Sebuah pertunjukan yang benar-benar menguras energi para pemain dan juga para penonton. Bagi Teater Koma dan para penontonnya, durasi ini mungkin ideal. Artinya, Teater Koma punya bekal yang cukup untuk melakukan “marathon”. Mereka punya pemain-pemain berpengalaman, dukungan tata artistik yang memadai, serta penonton yang “siap”.
Sayang sekali DKK tidak menjadikan “marathon” tersebut menjadi “lomba lari jarak menengah” saja. Artinya, sutradara DKK seharusnya berani melakukan pemangkasan besar-besaran, sehingga durasi tidak lagi 3.20 jam, tapi sekitar 2 jam saja. Bagian-bagian yang memperlambat tempo harus dibuang, atau dikurangi. Meskipun kostum tergarap apik, tapi pemain-pemain DKK yang berkualitas prima hanya 60% saja, sisanya belum benar-benar siap. Durasi pertunjukan yang panjang menuntut kualitas aktor yang benar-benar prima, serta dukungan tata artistik yang hebat. Dalam pementasan ini aktor yang berperan sebagai Dalang, Engthay dan Sampek saja benar-benar ciamik. Pembantu Engthay (Sukyu?) sebenarnya juga potensial, sayang terlalu overacting dan terus-menerus berpretensi untuk menjadi lucu, sehingga kemunculannya justru sering “mengganggu”.
O ya, salah satu kelemahan elementer pertunjukan teater di Jember adalah tata cahaya. Begitu banyak lampu, tapi tidak cukup meng-highlight ekspresi para pemain. Lampu-lampu tersebut disorotkan dari atas semuanya, tidak ada yang dari arah depan.
Musik? Cukup apik ketika mengiringi nyanyian, tapi kurang kontekstual ketika berfungsi sebagai ilustrasi.
Tapi bagaimanapun juga secara keseluruhan saya mengacungkan dua jempol untuk penampilan DKK kali ini. Selamat, teruslah berkarya untuk menyegarkan udara Fak. Sastra Unej yang menyesakkan dada. (/Ilham)

Cak Ilham's photo.
Cak Ilham's photo.
Cak Ilham's photo.
Cak Ilham's photo.
Cak Ilham's photo.
+2

Written by