MENAKJINGGO: KEPAHLAWANAN DAN REKONSILIASI BUDAYA USING

Sri Mariati, Novi Anoegrajekti, A. Erna Rochiyati S., dan Sudartomo Macaryus
Fakultas Sastra Universitas Jember, FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
srimariatiSW@yahoo.co.id, novi.anoegrajekti@gmail.com, ernarochiyati@yahoo.co.id , msudartomo@ymail.com

Abstrak

Kisah Menakjinggo memiliki beberapa versi. Dalam versi seni tradisi ketoprak, ia digambarkan sebagai pembangkang yang melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Oleh karena itu, Ratu Puteri Kencanawunggu mengadakan sayembara untuk membunuh Menakjinggo. Dalam seni Janger Banyuwangi, Menakjinggo pada mulanya juga digambarkan seperti dalam kisah ketoprak. Keadaan fisik Menakjinggo pada mulanya juga digambarkan sama. Jalannya timpang, wajahnya rusak, suaranya sengau, dan memiliki kebiasaan latah yang khas. Perubahan terjadi pada tahun 1970. Saat itu Hasan Ali mengonstruksi tokoh Menakjinggo sebagai raja yang tampan, gagah, perkasa, jujur, berwibawa, bijaksana, dan sakti mandraguna.
Kata kunci: seni tradisi, janger, ketoprak

page 1124-1135