[:id]HISKI Jember Apresiasi Film Pendek “Sekar” Karya M. Zamroni, antara Kesederhanaan dan Keikhlasan[:]

[:id]

Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia Komisariat Jember (HISKI Jember) bekerja sama dengan Jurusan Sastra Indonesia & Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Jember (FIB UNEJ), Jurnal Semiotika, dan Kelompok Riset Film Studies, kembali usai adakan Webinar Nasional, mengapresiasi kesederhanaan dan keikhlasan yang terefleksi dalam film “Sekar” Karya M. Zamroni, Sabtu (28/1/2023).
Film “Sekar” yang banyak memuat visual dan verbal simbolis, memunculkan banyak tafsir dan makna. Film cinta yang menampilkan kontradiksi antara perasaan dan pikiran, dapat merepresentasikan banyak hal, di antaranya kesederhanaan dan keikhlasan.
Demikian benang merah yang dapat disarikan dari Webinar NGONTRAS#18 (Ngobrol Nasional Metasastra ke-18), secara daring melalui zoom meeting, menghadirkan narasumber Dr. (C) Deddy Setyawan, S.Sn., M.Sn. (Institut Seni Indonesia Yogyakarta) dan Muhammad Zamroni, S.Sn., M.Sn. (FIB Universitas Jember). Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Bambang Aris Kartika, S.S., M.A., anggota HISKI Jember sekaligus dosen PSTF, pewara Sherin Fardarisa dan host Novianti Pratiwi, keduanya mahasiswa FIB UNEJ.
Pewara memulai acara dengan pantun. Pagi hari di ujung pantai, menatap laut betapa indahnya. Dapat ilmu dengan ngobrol santai, tentu dari NGONTRAS jawabannya. Kemudian acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIB UNEJ, Prof. Dr. Sukarno, M.Litt.
Dalam sambutannya, Sukarno mengatakan bahwa dirinya telah menonton film “Sekar” ketika diputar perdana di Kota Cinema Mall Jember. Dikatakannya bahwa pada waktu itu antusiasme penonton cukup menggembirakan. Beliau juga mengungkapkan bahwa saat ini merasa senang, karena meskipun libur perkuliahan, tetap ada aktivitas akademik melalui webinar membahas film. “Forum ini dapat dimanfaatkan untuk menikmati, mengapresiasi, sekaligus mengkaji film, karena ada kreator dan kritikusnya,” kata Sukarno.
Beliau juga menyampaikan bahwa FIB UNEJ akan menyelenggarakan seminar internasional. Tentu hal tersebut dapat dimanfaatkan para pemakalah untuk mempresentasikan hasil risetnya. “Semoga audiens yang biasa bergabung di Webinar NGONTRAS, juga dapat bergabung di seminar internasional FIB UNEJ,” ungkap Sukarno.
Muhammad Zamroni, S.Sn., M.Sn., sebagai penulis skenario dan sutradara, yang berbicara pada sesi pertama, mengungkapkan suka-duka dalam proses kreatif pembuatan film “Sekar”. Lelaki  kelahiran Magetan, 12 November 1984, tersebut mengatakan bahwa ide kisah film ini sudah ada sejak tahun 2014, tetapi pada waktu itu belum ada greget untuk mewujudkannya menjadi karya film. Justru ketika masa pandemi, greget tersebut muncul dan mampu memberi dorongan hingga terwujud film.
Disebutkannya bahwa film dengan tema cinta tersebut terinspirasi oleh pengalaman pribadi, namun tetap dikemas dengan imajinasi. Meskipun demikian, Zamroni memberi sentuhan dalam perspektif yang tidak biasa. Film ini didominasi pergulatan antara rasa dan rasio, perasaan dan rasionalitas.
Terkait makna film, audiens dapat mengapresiasinya sesuai latar belakang pemikiran masing-masing. Namun, Zamroni mengungkapkan bahwa pesan dalam film yang diniatkannya adalah hidup dalam kesederhanaan, mampu me-manage seluruh aspek di dalam tubuh secara seimbang, terutama antara pikiran dan perasaan. “Itu pesan yang ingin saya sampaikan. Tetapi ternyata tidak mudah,” kata Zamroni yang juga Koprodi PSTF.
Zamroni juga mengungkapkan bahwa pesan yang dimaksud, sebenarnya telah disematkannya di awal film, melalui tembang yang didendangkan Yu Sinto. Tembang Jawa tersebut berbunyi: aja sok gampang janji wong manis / yen ta amung lamis / becik aluwung prasaja nimas / ora agawe cuwa. Tembang tersebut secara umum bermakna apa adanya, kesederhanaan, kejujuran, tidak neko-neko, sehingga tidak mengecewakan orang lain. “Itu sebenarnya, niat yang ada dalam benak saya, ketika membuat film ini,” jelas Zamroni, yang juga telah menghasilkan dua film dokumenter, film Java Teak dan film Bhante Dhammasubho.
Dr. (C) Deddy Setyawan, S.Sn., M.Sn., yang berbicara pada sesi kedua, mengapresiasi secara baik terwujudnya film “Sekar”. Apalagi, kreatornya seorang dosen PSTF yang memiliki kesibukan tersendiri. Bagi Deddy, film yang diproduksi secara kolaboratif antara dosen, mahasiswa, dan alumni PSTF tersebut sangat menarik, karena banyak visual yang simbolik. Hal tersebut, selain memunculkan efek estetis, juga multitafsir. “Film ini dapat diapresiasi dari berbagai perspektif, sesuai perspektif apresiatornya,” jelas Deddy, yang telah menulis buku Manajemen Penyiaran (2013) dan Manajemen Produksi Televisi (2017).
Lebih lanjut, Deddy menjelaskan bahwa satu film dapat diapresiasi dan dikritisi dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Lelaki kelahiran Yogyakarta, 29 Juli 1976, tersebut  mengungkapkan, jika yang mengapresiasi seorang aktivis gender, maka aspek gender akan menjadi objek utama dalam apresiasi, misalnya apakah sudah ada kesetaraan gender antara Sekar dan Galang. Kalau yang mengapresiasi berlatar belakang sastra, dapat dicermati pada dialog dan penggunaan estetika bahasa. “Jika yang mengapresiasi teman-teman PSTF, maka akan dibahas sisi sinematografinya. Jadi, satu film bisa ditarik ke mana-mana,” jelas Deddy.
Kemudian Deddy menjelaskan bahwa secara sinematografi, film “Sekar” bergenre fiksi drama keluarga, dengan alur cerita dari awal, klimaks, hingga konklusi tampak natural dan tidak menggurui. Lighting-nya juga natural sehingga dari sisi artistik sudah cukup. Diungkapkannya bahwa film ini memanfaatkan framing untuk mengacak-acak perasaan penonton. Dialog yang muncul bersifat ringan tetapi berbobot. Sinematografinya shot-shot simple, sederhana, tetapi bermakna. Dari sisi visual banyak memanfaatkan simbol-simbol. “Sampai akhir cerita pun masih simbolik. Artinya, menimbulkan penafsiran yang beragam, karena visual film tidak benar-benar selesai,” jelas Deddy, yang riset terakhirnya berjudul Dampak Masa Pandemi Covid-19 dalam Menjaga Eksistensi Festival Film: Studi Kasus Festival Film Pelajar Jogja 2020 (2021).
Salah satu tafsir yang disampaikan oleh Deddy, bahwa pada akhir kisah, film ini dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk menyampaikan keikhlasan. Sekar yang pergi dari rumah, ikhlas meninggalkan suaminya. Galang yang ditinggal istrinya, juga ikhlas melepas kepergian Sekar. “Ikhlas ini diwujudkan melalui tindakan, bukan melalui perkataan,” kata Deddy, mengakhiri pembicaraan.
Acara NGONTRAS#18 dilanjutkan dengan berdiskusi interaktif hingga acara berakhir. Bagi yang berhalangan bergabung, rekaman zoom dapat disimak ulang melalui HISKI JEMBER OFFICIAL, https://bit.ly/YoutubeHISKIJember.***

[:]

Related Posts