Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Mar 30, 2017 in Summary | 0 comments

Eksistensi Kesenian Tayub di Kabupaten Nganjuk Tahun 1996-2009

RINGKASAN

 

Eksistensi Kesenian Tayub di Kabupaten Nganjuk Tahun 1996-2009;

Wahyu Fitriyani; 120110301012; 2016; 155 halaman; Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Artikel ini membahas tentang Eksistensi Kesenian Tayub di Kabupaten Nganjuk Tahun 1996-2009, yang dilihat dari aspek perkembangan maupun penurunan kesenian tayub. Fokus penelitian ini yaitu di Kabupaten Nganjuk Desa Sambirejo dan Desa Tempuran yang mana memiliki intensitas pementasan tayub yang tinggi, namun kedua desa memiliki ciri khas tayub masing-masing. Permasalahan yang dikaji dalam bahasan ini meliputi apa yang melatarbelakangi kesenian tayub mengalami penurunan intensitas pementasan maupun penurunan jumlah senimannya, bagaimana eksistensi kesenian tayub tahun 1996-2009 di Kabupaten Nganjuk, bagaimana pengaruh kesenian tayub terhadap bidang sosial, ekonomi dan budaya.

Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejarah perkembangan tayub mulai dari 1996 yang mengalami penurunan sehingga pemerintah memfasilitasi kesenian tayub dengan berdirinya Padepokan Langen Tayub Anjuk Ladang. Mengetahui sejarah kesenian tayub di Kabupaten Nganjuk yang awalnya tayub berasal dari pusat-pusat kerajaan Jawa hingga sampai ke Nganjuk. Tayub di Nganjuk mengalami pasang-surut yang kemudian mendapatkan perhatian yang lebih serius oleh pemerintah selama tahun 1996-2009. Mengetahui tentang kesenian tayub dapat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, tidak hanya pelaku seniman saja tetapi juga masyarakat yang ada di sekeliling pertunjukan tayub itu berada. Tayub merupakan pertunjukan kerakyatan yang tidak lepas dari kehidupan senimannya untuk mencari nafkah.

Penelitian ini menggunakan metode sejarah meliputi heuristik, kritik sumber (kritik dari dalam dan dari luar), interpretasi dan historiografi. Pendekatan dalam penelitian ini yaitu etnokoreologi yang digunakan untuk menguraikan tentang tayub sebagai produk budaya yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial-budaya (kontekstual) dan untuk menganalisis tentang pendukung tayub, elemen-elemen tayub berupa gerak, musik, rias, busana dan panggung (tekstual). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori fungsi seni pertunjukan yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian tayub mulai mengalami penurunan dalam segi kuantitas dan perkembangan dalam segi kualitas pada tahun 1996, sehingga perlu pencegahan yang serius. Kiprah Disbudparda yang menaungi kesenian di Nganjuk membangunkan sebuah padepokan sebagai wadah untuk melakukan pembinaan, berkeluh kesah, sharing dan lain-lain. Hal ini menghasilkan karya yang positif dengan dicetuskannya Tayub Padang Bulan pada 2006. Tayub Padang Bulan merupakan ciri khas tayub Nganjuk yang mengandung pembaharuan-pembaharuan mulai dari peraturan, busana dan panggung. Hal ini untuk menepis perspektif negatif masyarakat tentang tayub. Desa Tempuran Kecamatan Ngluyu masih menggunakan tayub terop atau model lama, walaupun sudah mendapatkan pengarahan tentang Tayub Padang Bulan. Adanya Tayub Padang Bulan mendapat respon yang baik di masyarakat. Pada 2009 acara rutin gembyangan waranggana yang semula di Desa Sambirejo bertambah ritual gembyangan di Air Terjun Sedudo. Tayub pada 2009 akan dijadikan icon Kabupaten Nganjuk namun karena adanya pro dan kontra dari pemerintah hal itu tidak terlaksana.

Kesimpulan penelitian ini yaitu kesenian pertunjukan tayub mengandung nilai-nilai yang relevan dengan budaya lokal yaitu: kebersamaan, persatuan dan egalitarian. Tayub mengalami proses yang sulit dan panjang untuk menjadi kesenian yang lebih diterima oleh masyarakat di tengah-tengah budaya modern. Tayub dari tahun ke tahun melakukan inovasi mulai dari gendhing, tata rias, budasa, dan tari-tarian yang lebih meriah mengikuti selera masyarakat dengan tidak meninggalkan pakem dari tayub itu sendiri. Seniman tayub di Nganjuk semakin tahun berkurang jumlahnya hal ini karena generasi muda lebih tertarik dengan budaya modern. Pemerintah membuat banyak aturan yang semakin mengekang pertunjukan tayub.

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *