Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on May 2, 2015 in Disertasi, feature categori | 0 comments

Sistem Morfologi Dan Sintaksis Kategori Verba Deverbal Dalam Bahasa Osing Disertasi

Sistem Morfologi Dan Sintaksis Kategori Verba Deverbal Dalam Bahasa Osing Disertasi

Oleh :
Asrumi

Secara morfologis, verba sebagai salah satu jenis kata yang pengkategoriannya dapat ditentukan melalui kesepadanan atau korespondensi yang teratur antara ciri bentuk dan/ atau valensi sintaktis dengan ciri arti, melalui pola-pola pembentukan kata (word-formation) dengan morfem dasar verba (deverbal) dapat menghasilkan kata-kata baru yang dibedakan atas verba deverba tipe I dan verba tipe II. Secara sintaktis, verba deverbal tersebut sebagai sentral kalimat pengisi P, secara semantis memiliki beberapa komponen makna sehingga mampu menghadirkan jumlah, jenis, dan peran argumen. Oleh karena itu, verba deverbal tersebut secara semantis dan gramatis memiliki relasi makna dengan nomina yang mengikuti dan mendahuluinya dalam kalimat. Tujuan penelitian ini adalah: secara morfologis (1) menentukan sistem kategori verba deverbal (tipe I) dan kontras kategorialnya, (2) menentukan sistem kategori verba deverbal (tipe II) dan kontras kategorialnya, dan Secara sintaktis, (3) mendeskripsikan argumen dan peran argumen verba deverbal tipe I dan tipe II yang meliputi: (a) jumlah, jenis, dan peran argumen, (b) Sifat relasi semantik verba deverbal (tipe I dan tipe II) transitif dan intransitif dengan argumen yang mengisi fungsi S, O, PEL, dan KET. Metode dalam penelitian: simak bebas libat cakap dan simak libat cakap dengan teknik kerja sama dengan informan dan teknik catat dalam penyediaan data. Metode agih dengan teknik (urai, ganti, perluas/ekspansi, parafrase, lesap, balik), oposisi dua-dua/biner, analisis komponen makna, dan metode padan referensial dalam analisis data. Hasil yang diperoleh adalah: secara morfologis, kategori verba deverbal tipe I berkategori N-D (transitif aktif) yang berpasangan dengan kategori di-D (transitif pasif), kecuali verba nggolet [ŋgyolEt] ‘mencari’ dan ngasag [ŋasak] ‘mengais’ yang tidak berpasangan dengan kategori di-D. Verba deverbal tipe II ditemukan adanya kategori N-D (intransitif) dan ada yang tidak berkategori N-D (intransitif), namun, tidak pernah terdapat kategori di-D (pasif). Secara bentuk, sistem paradigma inti kategori verba deverbal tipe I terdapat delapan baris yang masing-masing baris terbagi dalam tiga kolom (A, B, dan C), kecuali pada baris ke-8, sedangkan dalam verba deverbal tipe II terdapat sembilan baris yang terbagi dalam tiga kolom (A,B, dan C) kecuali baris ke-9. Dikatakan secara bentuk karena struktur pada setiap baris dapat berbentuk monotransitif dan bitransitif. Berdasarkan sistem paradigma inti, diketahui bahwa tidak semua verba deverbal tipe I memiliki formula tersebut karena kendala-kendala semantik. Kontras kategorial verba deverbal tipe I dan tipe II dapat terjadi antarbaris secara vertikal dan antarkolom secara horisontal. Secara horisontal, kontras kategorial verba kelas I dan kelas II di antaranya ialah bahwa afiks {-i} bernilai ‘frekuentatif’ pada tipe I lawan ‘pasientif’ pada tipe II dan afiks {-ǝn} bernilai ‘benefaktif’ pada tipe I vi lawan ‘kausatif (±adversatif)’ pada tipe II. Secara sintaktis, verba deverbal tipe I yang monotransitif mampu menghadirkan dua argumen (S:agen/pasien dan O: pasien/agen); yang bitransitif tiga argumen (S: agen/benefaktif; Odir.: benefaktif/agen; dan Oindir.: pasien/lokatif). Verba tipe II yang monotransitif mampu menghadirkan dua argumen (S: agen/pasien; O/Ө: agen/pasien); yang bitransitif mampu menghadirkan tiga argumen (S: agen/pasien; Odir.: pasien/lokatif; dan Oindir.: instr.); yang intransitif menghadirkan satu argumen (S: agen); yang semitransitif menghadirkan dua argumen (S: agen; PEL: pasien). Verba deverbal yang transitif dan intransitif sebagai P mempunyai relasi makna dengan argumen pengisi fungsi S (agen/pasien/pengalam), O (sebagai pasien/agen), dan PEL (sebagai pasien/lokatif) yang bersifat generik, spesifik, dan metaforis, dan dengan argumen yang mengisi fungsi KET (sebagai lokatif) yang bersifat generik.

sumber : http://digilib.uns.ac.id/

Baca Juga :

Disertasi Dr. Eko Crys Edrayadi, M.Hum

Disertasi Dr. Akhmad Haryono, M.Pd

Disertasi Dr. Ikwan Setiawan, M.A.

Disertasi Dr. Sukarno, M.Litt

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »