Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on May 2, 2015 in Disertasi, feature categori | 0 comments

POLA KOMUNIKASI WARGA NAHDLATUL ULAMA ETNIK MADURA (WNUEM) DI JEMBER: Kajian Etnografi Komunikasi

POLA KOMUNIKASI WARGA NAHDLATUL ULAMA ETNIK MADURA (WNUEM) DI JEMBER: Kajian Etnografi Komunikasi

Penulis
Akhmad Haryono
Pembimbing: Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U. M.A.

Ahmad HaryonoABSTRACT: The purpose of this research is to discribe the communication patterns used by the members of Nahdlatul Ulama of Madurese ethnic (WNUEM), and to explain the faktors which determine the communication patterns used by WNUEM. The communication patterns in this research focus on the use of speech levels (ondhâghân bhâsa), the language choice and the language variety used to do code-switching and code-mixing, the intonation (tone), and the symbols appearing through the gestures (body language) which help to understand the speech acts in verbal language, and turn-taking. The speech category and function as the part of the communication patterns are discussed in a separate subchapter. It is hoped that this research gives two positive contributions, namely: the theoretical and practical ones. Theoretically, the research result is useful to contribute the development of linguistics, especially in the field of sociolinguistics, pragmatics, and ethnography of communication. Practically, it is hoped that the research can motivate other researchers in the similar fields. The research result is also hoped to be the references for the Nahdlatul Ulama organizations and other organizations in developing activities involving their members to use language as a medium of communication The qualitative method with the ethnography of communication approach is used to achieve the goal of this research. The data were collected by doing participation and nonparticipation observation, interviewing, documenting, and tape recording. The recorded (spoken) data were transcribed into the written text. Having been collected, the data were analyzed descriptively by the method of the ethnography of communication using the speech analysis components, conversation analysis, discourse analysis with the concept of pragmatics and explanation. The research result shows that the communication patterns of WNUEM can be classified in to the following patterns: (1)The communication patterns between kiai and kiai (Islamic religious leaders), (2) The communication patterns between kiai and UNUEM; (3) The communication patterns among UNUEM; and (4) The communication patterns derived from the strategies used by kiai/ulama while delivered their messages in the past. Those communication patterns are influenced by the social status (the role and position in society; the descent, and the level of religiousness), age differences, the kinship, and the position of men and women in the speech community. These factors refer to the values of Islamic Boarding house paternalistic culture, and the culture of Madurese ethnic (EM) which becomes the tradition among WNUEM. The speech components of WNUEM cannot be separated one from another, because each of them influences each other in producing their speech. There are three aspect that can influence their speech; they are: (1) the linguistic knowledge; (2) the interaction skill; and (3) cultural knowledge. Those aspects play an essential role to determine the communication patterns.

INTISARI: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola komunikasi yang digunakan warga Nahdlatul Ulama etnik Madura (WNUEM) dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pola komunikasi yang digunakan WNUEM dalam berkomunikasi. Pola komunikasi yang digunakan WNUEM dalam penelitian ini berfokus pada penggunaan tingkat tutur (ondhâghân bhâsa), pilihan bahasa dan ragam bahasa yang digunakan untuk beralih kode dan bercampur kode, intonasi (tone), simbol-simbol yang ditampakkan melalui gerakan tubuh (body language) sebagai aspek pendukung pemahaman terhadap tindak tutur dalam bahasa verbal, dan alih giliran tutur. Kategori dan fungsi tuturan sebagai bagian pola komunikasi, dibahas dalam subbab tersendiri. Penelitian ini diharapkan memberikan dua kontribusi positif, yakni kontribusi teoritis dan kontribusi praktis. Dari segi teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangsih pemikiran dalam ilmu linguistik, sehingga dapat dijadikan tambahan teori untuk memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang sosiolinguistik, pragmatik, dan etnografi komunikasi. Sedangkan dari segi praktis penelitian ini dapat menjadi inspirasi untuk penelitian selanjutnya dalam bidang sejenis dan acuan bagi organisasi Nahdlatul Ulama dan organisasi lainnya dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan Warga NU yang menggunakan media bahasa sebagai alat komunikasi. Metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini. Data dikumpulkan melalui observasi partisipasi dan nonpartisipasi, interview, pencatatan, dan perekaman. Data yang berupa rekaman ditranskripsi ke dalam bentuk data tertulis. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode etnografi komunikasi melalui analisis komponen tutur, Analisis conversation, Analisis wacana dengan konsep pragmatik, dan eksplanasi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Pola komunikasi WNUEM di Jember dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) Pola komunikasi antarkiai; (2) Pola kiai-UNUEM; (3) Pola komunikasi UNUEM; dan (4) Kisah kiai/ulama sebagai pola dan strategi penyampaian pesan di kalangan WNUEM. Pola komunikasi tersebut dipengaruhi oleh status sosial, (peran, jabatan, keturunan/nasabiyah, tingkat kealiman) perbedaan umur, keeratan hubungan, dan posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tutur. Faktor-faktor tersebut mengacu pada nilainilai religius pesantren, kultur paternalistik, dan budaya EM yang sudah menjadi kebiasaan di lingkungan WNUEM. Komponen tutur WNUEM tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya karena masing-masing komponen tutur saling mempengaruhi dalam membangun sebuah tuturan, sehingga terjadi peristiwa tutur. Ada tiga aspek yang dapat mempengaruhi peristiwa tutur yaitu Aspek pengetahuan linguistik (linguistic knowledge), aspek skil interaksi (interaction skill) dan aspek pengetahuan budaya (cultural knowledge). Ketiga aspek tersebut memiliki peran yang amat penting dalam menentukan terbentuknya pola komunkasi.

sumber : http://etd.repository.ugm.ac.id/

Baca Juga :

Disertasi Dr. Asrumi, M.Hum

Disertasi Dr. Eko Crys Endrayadi, M.Hum

Disertasi Dr. Ikwan Setiawan, M.A.

Disertasi Dr. Sukarno, M.Litt

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »