Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Mar 7, 2017 in Summary | 0 comments

Mini Drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014” Versi Iklan Line Indonesia (Kajian Estetika Monroe Breadsley)

RINGKASAN

 

 

Mini Drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014” Versi Iklan Line Indonesia (Kajian Estetika Monroe Breadsley); Mirza Febrianti, 110110401004; 2016; 85 halaman; Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

 

Teknik sinematografi berkaitan erat dalam pembuatan sebuah film. Penggunaan teknik yang baik dan tepat dapat menghasilkan film yang berkualitas. Mengenai sebuah film, di Indonesia sudah banyak menghasilkan film-film terbaik yang diproduksi oleh para sineas. Pada pembuatan sebuah film, para sineas harus menyajikan sebuah alur cerita yang menarik, salah satu contohnya adalah alur cerita percintaan. Tema percintaan juga menjadi daya tarik bagi salah satu sutradara di Indonesia yaitu Mira Lesmana, yang memproduksi mini drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014” dengan durasi 10 menit 24 detik.

Mini drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014” memiliki daya tarik tersendiri bagi para penonton, karena pemeran yang digunakan masih sama dengan pemeran film “Ada Apa Dengan Cinta” tahun 2002. Alur cerita pada mini drama seolah-olah melanjutkan akhir cerita pada film “Ada Apa Dengan Cinta”, namun tidak untuk sekuel kedua. Pembuatan mini drama bertujuan untuk mempromosikan fitur terbaru dari aplikasi LINE yaitu “Find Alumni”. Sajian pada mini drama dikemas secara menarik, disebarkan melalui sebuah pesan sosial media, sehingga mempermudah pengguna LINE untuk dapat menonton mini drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014” dengan kualitas gambar yang baik.

Penelitian ini mengambil objek mini drama “Ada Apa Dengan Cinta 2014”

melalui   pendekatan   sinematografi   dari   segi   pengambilan   gambar,   dianalisis menggunakan teori estetika milik Monroe Breadsley. Teori Monroe Breadsley memiliki tiga aspek yaitu aspek complexity, aspek unity, dan aspek intensity. Dari aspek complexity ditemukan pembahasan tentang karakter tokoh, masing-masing tokoh dijelaskan secara detail untuk memahami karakter yang diperankan. Aspek unity ditemukan pembahasan berupa sebuah teknik pengambilan gambar, contoh adegan yaitu saat pengambilan adegan Rangga dari sisi low angle, sudut kamera secara low angle menggambarkan kondisi Rangga yang percaya diri dan optimis. Selanjutnya ada aspek intensity ditemukan pembahasan berupa konsistensi gambar dengan alur cerita, contoh adegan saat Cinta sedang berada pada sebuah cafe bersama keempat sahabatnya, alur cerita serta lokasi dapat dikatakan konsisten karena cafe merupakan tempat yang nyaman untuk bersantai. Terdapat pembahasan sajian mini drama kepada pengguna aplikasi LINE, bertujuan untuk memperlihatkan teknik promosi iklan melalui sebuah mini drama yang disebarkan melalui pesan sosial media “LINE For Android”.

Hasil penelitian dapat menjelaskan arti teknik sinematografi dalam sebuah pengambilan gambar, sehingga dapat mengetahui tata letak kamera serta blocking pemeran agar tampak menarik dalam sebuah layar. Peneliti menganalisis karakter masing-masing tokoh melalui busana yang dikenakan, gaya berbicara, dan ekspresi wajah. Analisa selanjutnya adalah konsistensi alur cerita dengan gambar, tujuannya adalah untuk mengetahui kecocokan cerita dengan lokasi adegan, tata letak properti, serta waktu. Terdapat pembahasan tentang sinematografi alur cerita, tujuannya adalah untuk mengetahui sajian pengambilan gambar serta bagian cerita dari opening hingga closing, melalui gambar yang telah direduksi oleh peneliti.

 

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »