Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Feb 28, 2017 in Summary | 0 comments

Interlanguage Pragmatics: Differences of English Request Strategies Between High Proficiency and Low Proficiency Students of Academic Year 2012 of English Department Faculty of Humanities University of Jember

RINGKASAN

Interlanguage Pragmatics: Differences of English Request Strategies Between High Proficiency and Low Proficiency Students of Academic Year 2012 of English Department Faculty of Humanities University of Jember; Harliansyah Noer Yunanda, 090110101063; 2016; 60 halaman; Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.

 

Studi ini membahas tentang perbedaan strategi permohonan yang diutarakan dalam bahasa Inggris oleh dua kelompok mahasiswa sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember angkatan 2012 yang berbeda. Dua kelompok tersebut terdiri dari para mahasiswa yang memiliki tingkat kecakapan tinggi dan para mahasiswa yang memiliki tingkat kecakapan rendah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kedua kelompok mahasiswa tersebut bisa berbeda dalam hal penggunaan strategi permohonan dan mengetahui penyebab dari adanya perbedaan tersebut. Selain itu, studi ini juga ditujukan untuk mengetahui peran dari kecakapan terhadap metode mahasiswa-mahasiswa tersebut dalam mengutarakan tindak tutur permohonan dalam bahasa Inggris.

Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini sebagian besar adalah kualitatif, meskipun beberapa aspek tampak seperti kuantitatif. Untuk mengumpulkan data yang ada, studi ini menggunakan jenis penelitian survei. Metode yang digunakan untuk menganalisis dan menyaring data tersebut adalah metode purposive sampling dan wawancara berkelompok yang terpusat. Transkripsi data dari wawancara tersebut diperoleh melalui dua wawancara secara berkelompok yang masing-masing dilaksanakan pada waktu dan tempat yang berbeda. Selain itu, purposive sampling juga sangat berguna dalam mengumpulkan data yang memiliki banyak variasi dan fokus dari data tersebut.

Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa baik mahasiswa yang memiliki kecakapan tinggi maupun mahasiswa yang memiliki kecakapan rendah masih terpengaruh oleh bahasa pertama mereka. Pada kenyataannya, pengaruh tersebut tidak hilang, bahkan saat mereka terpapar oleh lingkungan bahasa Inggris buatan dalam jangka waktu yang lama. Namun, mereka juga memiliki perbedaan dalam hal kompleksitas strategi. Mahasiswa dengan kecakapan tinggi cenderung menggunakan strategi yang panjang sedangkan mahasiswa dengan kecakapan rendah cenderung menggunakan strategi yang ringkas. Para mahasiswa tersebut juga menggunakan jawaban atau respon yang bervariasi di tiap situasi dengan menggunakan permohonan langsung, permohonan tidak langsung konvensional dan permohonan tidak langsung nonkonvensional. Berdasarkan dari temuan tersebut, para mahasiswa cenderung menggunakan strategi Reference to Preparatory Conditions sebagai strategi permohonan mereka.

Meskipun semua mahasiswa tersebut hanya terpapar oleh lingkungan bahasa Inggris buatan, mereka tidak memiliki pemahaman dan penggunaan yang sama terhadap target bahasa mereka. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa aspek seperti kurangnya percaya diri atau lingkup kosakata. Oleh karena itu, hal tersebut menunjukkan bahwa terpapar oleh lingkungan yang sama tidak serta merta memberikan hasil yang sama terhadap kesuksesan para mahasiswa dalam mencapai target bahasa mereka. Hal tersebut juga memerlukan faktor-faktor yang lainnya seperti tingkat kecakapan dan kepercayaan diri sendiri.

 

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »