Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Feb 24, 2017 in feature categori, Seminar | 0 comments

Manque à être: Psikoanalisis dalam dilema pembentukan subjek, kebudayaan dan sastra

Manque à être: Psikoanalisis dalam dilema pembentukan subjek, kebudayaan dan sastra

Seminar Psikoanalisis Sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (24/2) dengan pemateri Ghanesya Hari Murti diikuti beberapa dosen dan mahasiswa. Ghanesya Hari Murti adalah salah satu alumni Fakultas Ilmu Budaya yang sedang studi pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga dan peneliti di Matatimoer Institute.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember secara rutin setiap bulannya akan melakukan seminar dalam rangka memberikan wawasan keilmuan yang luas bagi dosen dan mahasiswa, kata Wakil Dekan I, Albert Tallapessy. Dalam sambutannya, Albert menyampaikan bawah tidak apa-apa, ada kalanya kita (dosen) memberikan ilmu kepada mahasiswa namun ada kalanya juga kita mendengarkan wawasan keilmuan mahasiswa kepada kita.

Berikut Paparan Ghanesya Hari Murti:

A. Oedipan, Sebuah Asumsi Dasar yang Menjangkar

Psikoanalisis hendak memberikan penjelasan tentang bagaimana subjek dapat kembali ke pengalaman primordial, ataupun mitik yang secara spesifik diandaikan sebagai pengalaman kembali bersatu dengan tubuh ibu. Pembacaan ini pertama kali dilontarkan oleh Sigmund Freud yang baginya pengalaman tersebut dikonseptualiasasi sebagai pengalaman oceanic[1] karena dia merepresentasikan yang utuh atau keutuhan dimana didalam rahim ibu semua kebutuhan dapat terpenuhi (aman, nyaman, kenyang, penuh cinta). Pengalaman ini yang dirindukan pada diri setiap individu sebagai pengalaman yang tak terbatas. Oceanic menggambarkan bahwa individu bagai setetes air yang jatuh pada lautan sehingga dia merasa penuh ketika bersatu dengan struktur asalinya yaitu lautan persis seperti mitos Oedipus.[2] Pengalaman primordial ini kemudian dicari dan menjadi proses yang tak pernah sampai bahkan berusaha disubstitusikan melalui hal lain seperti agama, agar bisa menyalurkan keinginan yang terbatas ketika diri dilahirkan. Mitos Oedipus ini kemudian menjadi asumsi dasar bagi psikoanalisis berikut pemikir setelahnya seperti Jacques Lacan untuk menjelaskan dengan cara yang lebih pelik dan ketat fenomena tersebut melalui kacamata struktural.

B. Lacan, proses pembentukan diri dan kebudayaan

Pararel dengan pemahaman  di atas, kebutuhan berikut hasrat menjadi  tidak bisa terpenuhi secara absolut karena “celakanya” individu harus dilahirkan dan keluar dari rahim ibu. Manusia yang lahir dan keluar berarti harus berjibaku dengan dimensi kebudayaan sekaligus turut mengkreasikannya dengan tujuan dapat memenuhi perasaan yang hilang ketika berpisah dengan tubuh ibu. Namun tragisnya produksi kebudayaan tidak serta merta membuat diri  menjadi penuh, namun justru mempertajam perasaan bahwa diri selalu dalam kekurangan atau lack.[3]  Peristiwa munculnya kekurangan kemudian dirunut ulang oleh Lacan dalam tiga fase.

Yang real

Tahapan real dapat dikatakan seabagai tahapan undifferenciated, tahapan dimana diri tidak terbedakan dengan yang lain. Tahapan ini dibayangkan pada fase dimana tubuh infant dan tubuh ibu masih (dibayangkan) sebagai satu kesatuan. Tentunya hal ini tidak bisa dialami ulang oleh subjek ketika subjek dilahirkan, karena setelah lahir, kelamin sudah ditentukan, serta subjek juga dihadapkan pada kode sosial seperti diberi baju atau nama sesauai dengan jenis kelamin biologisnya. Artinya yang real adalah subjek pralinguistik yang memungkinkan diri belum terfragmentasi, belum ada pemilahan subjek-objek, anak-ibu, ataupun subjek dengan kebutuhan biologis yang dihasratinya. Fase real dengan begitu berbeda dengan real dalam artian realitas, karena realitas baru bisa ditangkap setelah manusia berbahasa yang memungkinkan dirinya untuk mengutarakan objek yang dihasratinya. Dengan kata lain realitas adalah dimensi dimana subjek mengalami lack akibat tubuhnya yang tidak terpuaskan, sedangkan real adalah wilayah di mana perasaan utuh atau terpuaskan muncul (Lacan, 2001: 11)

Yang  imaginary

Fase imajiner bisa dibayangkan pada saat subjek mulai mengidentifikasi dirinya sebagai subjek yang berbeda dengan tubuh ibunya. Fase ini sering sekali ditautkan dengan fase cermin diri, karena pasa saat tersebut subjek mulai menentukan dirinya atau “making sense of self” sebagai subjek yang mengetahui kediriaannya dengan cara yang tidak fragmentaris. Fragmentaris adalah ketika sang anak menemukan pleasure secara parsial seperti halnya ketika nikmat menikmati puting ibu melalui mulut khas tahapan oral[4] yang terjadi pada usia 0-2 tahun. Pengalaman kenikmatan yang tadinya terpisah, hanya melalui mulut, kemudian disadarkan bahwa dirinya adalah kesatuan dan berbeda dengan tubuh ibu melalui fase cermin. Tahapan cermin kemudian mengimajinasikan diri dengan membedakan diri dengan yang lain, sekaligus diri yang otonom dengan maksud agar mengenal dirinya lebih baik. Imajinasi berperan penting karena memungkinkan diri untuk memahami dirinya, self, dengan objek lain atau the other yang tentunya bukan dirinya. Lacan menegaskan “in particular, the relation between the subject,…on the other, is frequently contrasted with the imaginary relation, that between the ego and its images. In each case, many problems derive from the relations between these two dimensions” (Lacan, 2001:10-1). Relasi yang nyatanya dan celakanya bukan diri ini adalah awal mula subjek melekatkan identitas pada diri melalui objek lain. Seperti bila ada anak punk yang melekatkan dirinya dengan grup band tertentu lalu menyatakan dirinya “saya adalah anak punk”, padahal usaha tersebut adalah bukti kegagalan diri untuk mengidentifikasi karena tidak ada satupun bayi yang ketika lahir sudah dibebani bahwa dirinya kelak akan menjadi anak punk, namun imajinasi merelasikan itu.

Yang simbolik

Semakin dewasa diri maka semakin mapan pula dunia pengalaman karena diri masuk dalam dimensi simbolik yang dimediasi melalui bahasa.  Hal ini dapat dipahami pada kondisi ketika subjek sudah bisa berbahasa dan tidak “cooing” maka akses pada dimensi simbolik-kultural menjadi terbuka namun sekaligus merepresi subjek untuk sudah selalu berkata sesuai dengan domain simbolik. Perubahan ini terlihat jelas karena ketika masih bayi, subjek tidak dilarang apapun ketika belum bisa berbicara namun menjadi miliki batasan ketika sudah berbahasa. Ini yang menyebabkan subjek sudah ada pada kondisi represi, karena bahasa selain membantu diri menjadi subjek tapi juga memberikan batasan apa yang boleh diucapkan dan apa yang tidak. Kondisi merepresi ini adalah teknik menjinakkan hasrat yang selalu tak terpuaskan “desire (fundamentally in the singular) is a perpetual effect of symbolic articulation. It is not an appetite: it is essentially excentric and insatiable. That is why Lacan co-ordinates it not with the object that would seem to satisfy it, but with the object that causes it (one is reminded of fetishism) … in Lacan’s sense, is himself an effect of the symbolic” (Lacan, 2001:10). Dalam kerangka ini subjek yang berbahasa memerlukan ego[5] serta imajinasi ketika hasrat dijinakkan oleh simbolik “the imaginary transference…which, by an effect of symbolic subduction, degrades, diverts, or inhibits the cycle of such behaviour, which, by an accident of repression, has excluded from the control of the ego this or that function or corporal segment, and which, by an action of identification, has given its form to this or that agency of the personality” (Lacan, 2001:26). Di sini juga dapat terlihat sumbangsih Lacan ketika memetakan imajinasi sebagai bentuk ketidaksadaran dan ego milik freud sebagai kesadaran.

Tahapan – tahapan tadi bukan berarti mutlak sirna,atau selesai disaat dewasa karena mereka terus terjadi dalam pengalaman hidup manusia yang juga mempengaruhi kebudayaan dengan tujuan hadirnya kepuasaan pada subjek.

C. Fort-da game, subjek berbahasa dan kebudayaan

Sebagai subjek yang berbahasa dalam dimensi simbolik nyatanya diri makin mengalami dilema karena bahasa memiliki keterbatasan untuk mengartikulasikan keinginan subjek serta realitas. Sebagai ilustrasi ketika subjek ingin makan tapi tidak bisa menentukan harus makan apa, lalu berkata terserah kepada temannya, tapi nyatanya kata terserah ini tidak bermakna terserah termannya, tapi terserah dia yang dirinya sendiri tidak tahu itu apa. Ada peristiwa dimana subjek semakin sadar kekurangan, lack, sehingga dia terus menerus ingin diisi dan dipenuhi. Kekurangan ini mengintensifikasi desire sebagai leftover dari kebutuhan. Jika kebutuhan bisa terpenuhi, maka desire adalah sisa dari kebutuhan yang tidak bisa terpuaskan. Kebudayaan dalam kerangka itu diciptakan untuk mensubstitusi desire yang tak pernah final, maka rangkaian ini dibayangkan seperti Fort da game[6] di mana peristiwa pralinguistik, fase real, muncul dan hilang kembali bersama simbolik bahasa.

Subjek yang terbelah (split), pleasure-pain

Konsekuensi yang lain ketika manusia berbahasa dan berbudaya adalah bahasa bukan milik personal tapi publik. Bahasa sebagai satu-satunya akses menuju realitas merupakan kesepakatan sosial, sehingga bahasa selalu diatur dan diproporsikan melalui yang simbolik. Ketika subjek menemukan proporsinya dengan realitas sosial simbolik maka dia menemukan kebahagian sementara, Lacan menyebut ini sebagai jouissance. Jika begitu jouissance (kebahagiaan, enjoyment) bukanlah yang murni karena dia nyatanya hanya demi memenuhi kebahagian yang lain (the other). Lacan dalam Fink menjelaskan peristiwa ini sebagai “to hand over a certain jouissance to the Other and let it circulate in the Other, that is, let it circulate in some sense outside of ourselves” (Lacan dalam Fink, 1995:103). Artinya, ini adalah peristiwa pleasure-pain, castration-jouissance, ketika keinginan tadi tersembelih oleh bahasa yaitu terkastrasi tapi juga menemukan kebahagian yang diserahkan kepada the other.

Secara mudah dapat diilustrasikan pada saat seorang pegawai bank yang senang bekerja seolah mendapatlkan keuntungan padahal kegemberiannya sebenarnya ditentukan oleh parameter laba bank. Artinya, dirinya bahagia mendapat uang namun juga menderita karena hidupnya dan ketagori bahagianya didisiplinkan oleh aturan perbankan yang tentunya jauh lebih bahagia jika dia memenuhi target kerjanya. Siklus ini seperti hutang yang tak mungkin terbayar karena diri tidak lagi mengetahui dirinya secara penuh tapi justru menjadi subjek terbelah karena proses tersebut. Lacan menjelaskan bagaimana proses subjektifikasi (individu ditulisi dan dikreasikan) seperti dalam skema berikut.

Image result for Chain of signifier Lacan

Garis lengkung s → s’ adalah garis linguistik sebagai rangkaian penanda (chain of signifier). Garis lengkung ∆ →$ adalah gerak libido pada subjek. Kesimpulannya posisi subjek adalah selalu dalam potongan atau irisan bahasa yang memproduksi subjek terbelah ($) yaitu subjek  yang tidak utuh, subjek yang pada dirinya hasrat direpresi dan dikodifikasi tatanan simbolik. Celakanya rangkaian signifier selalu mengacu pada signifier lain dan bukan pada signified s → s’ (Lacan, 2001:231). Maka subjek terus terbelah melalui bahasa tapi disisi lain dia juga harus mempertahankan libidonya.

Kebudayaan dengan begitu selalu bergerak dalam siklus tersebut, dimensi tanpa ujung dengan harapan adanya desire yang bisa terpenuhi walaupun secara teoritik dinyatakan tidak pernah logis, karena diri tidak mungkin menemukan dirinya ketika dikaitkan dengan objek lain (the other) yang bukan dirinya. Kebudayaan, the other, ada hanya sebagai perpanjangan hukum ayah,, hukum dimana yang patut dan tidak patut terus berusaha dikonstruksi dan menemukan bentuknya sesuai dengan skema Oedipan. Subjek yang lacking kemudian hanya bisa bermain dan merayakan fantasi melalui permainan bahasa.

Kebudayaan, empat wacana dalam Oedipanisasi

Permainan bahasa yang dimainkan oleh subjek dalam pembentukan diri dan kebudayaan bukanlah permainan bebas yang tanpa aturan tapi selalu menuntut hadirnya wacana tuan. Jadi berbahasa adalah usaha untuk mengatur desire agar sesuai dengan kode sosial simbolik sebagai tuan. Artinya subjek sudah selalu dalam posisi bagaimana agar hasratnya disepakati oleh kebudayaan. Kebudayaan dalam konteks ini adalah sang ayah (penanda tuan atau pun master signifier) yang nantinya segala ujaran tidak boleh bertentangan dengan hukum ayah.[7] Pemikiran ini kemudian dijabarkan dalam empat tipe wacana Lacan.

Image result for Four Lacan discourse

Image result for Lacan Four discourse

Keterangan:

$   : subjek yang terbelah

a   : pengingat kenikmatan, jouissance

S1 : penanda tuan, master signifier, hukum ayah

s2 : pengetahuan

Secara mudah segala yang tampak (sadar) berada pada posisi diatas garis, sedangkan yang tidak sadar ada dibawah garis. Empat wacana tersebut (kiri atas) berfungsi sebagai komando (commanding) demi memenuhi relasi yang diseberangnya. Wacana tersebut kemudian diberi nama wacana analis, universitas, master (tuan) dan wacana histeris (Lacan dalam Fink, 1995:31-9). Agar mudah dipahami maka akan diberikan ilustrasi dari setiap wacana dengan sebuah cerita, namun perlu dicatat bukan berarti setiap tatanan wacana tadi berlaku secara sekuen, berurutan ataupun bertahap.

Katakanlah seorang ayah (s1/agent) menyuruh anaknya (other/s2) untuk melanjutkan kuliah di kedokteran  karena dia berharap anaknya ($/truth) juga bisa bahagia seperti kakaknya yang sukses menjadi dokter . Sang anak yang setuju dan patuh pada hukum ayah akhirnya “manut” kuliah karena menganggap hasrat/ jouissance (a/product) akan terpenuhi. Peristiwa ini adalah wacana tuan di mana penanda tuan memliki acuan relasi untuk memuaskan anak. Namun ketika anaknya masuk pada bangku perkuliahan, pengetahuan akan kedokteran berikut teorinya (s2/agent) yang nyatanya diperintah oleh ayah sebagai sesuatu yang benar (s1/truth) ternyata tidak bisa memuaskan hasratnya (a/other) dan dia makin yakin bahwa dia merasa kekurangan, lack dan menjadi subjek terbelah ($/product). Peristiwa ini menandakan adanya wacana universitas dimana pengetahuan kedokteran dibalik itu hanya demi memenui hukum ayah, atau para pakar kedokteran (dokter, dan ahli medis) sehingga kenikmatan yang didapat bukanlah kenikmatan yang sempurna bahkan dia tahu dia merasa kekurangan. . Sang anak lalu memunculkan hasratnya (a/agent) atas saran pengetahuan akan kedokteran tadi (s2/truth) untuk memuaskan dirinya yang terbelah, split, tadi ($/other). Namun apa yang terjadi dia makin paham bahwa dia hanya menuruti ego ayahnya (s1/product) terlebih di masa kuliahnya dia malah sibuk menulis novel. Peristiwa ini dimaksudkan dalam wacana analis ketika anak berusaha untuk tidak lagi patuh. Lalu dia ($/agent) bertemu dengan temannya yang kuliah di Sastra dan mengutarakan dirinya ingin kuliah di fakultas budaya saja dan menyatakan tidak tahan kuliah di kedokteran kepada ayahnya (tidak kuat ditulisi terus menerus, merepresi terus menerus) oleh hukum ayah (s1,other). Sang anak sedang mengabarkan wacana histeris di mana dalam bawah sadar dia merindukan kenikmatan (a/truth) yang menurut ayahnya menjadi dokter adalah syarat kebahagian (s2, product). Empat wacana tadi analog dengan skema  Oedipan, hukum dimana master signifier yang hadir dalam realitas keseharian befungsi seperti ayah yang represif dan tidak bisa ditentang.

Ilustrasi diatas adalah gambaran bagaimana segala tindakan dalam dimensi kebudayaan baik dalam kesadaran maupun ketidaksadaran selalu dapat direlasikan sebagai peristiwa bahasa, karena hanya bahasa yang memiliki akses pada setiap pengalaman wacana, Lacan dengan begitu menyatakan tidak ada peristiwa diri dan juga kebudayaan yang diluar bahasa, Lacan dengan begitu menolak metabahasa (Lacan dalam Fink, 1995:44). Artinya pada hukum ayah yang mengkodifikasi cara tubuh untuk mencapai kenikmatan (symptom) pun harus melalui bahasa. Celakanya lagi bahasa memiliki keterbatasannya sehingga gerak diri dalam bahasa selalu memakai fungsi metonimi.

Lacan lalu menjelaskan, “for the symptom is a metaphor whether one likes it or not, as desire is a metonymy, however funny people may find the idea” (Lacan, 2001:133). Artinya bahasa adalah gejala tubuh yang tidak terpuaskan, sehingga bahasa selalu bersifat metaforik, sedangkan desire adalah metonimi atau substitusi dari penanda ke penanda yang lain yang tak pernah usai dalam sistem kebudayan. Sebagai ilustrasi bahwa metafora tidak sanggup melukiskan yang diinginkan bisa dilacak pada kalimat “wajahnya masih dingin, seperti malam selepas hujan, begitu beku begitu kaku”. Kata sperti ini sebenarnya berusaha membahasakan wajah yang bagaimana? Bisa saja wajah yang sedih, wajah yang muram tapi apapun itu wajah tersebut tidak bisa direpresentasikan secara utuh karena batasan bahasa tadi sehingga metafor menjadi jalan keluar, tapi tentu saja metafor tersebut masih tidak bisa membahasakan keluaasan makna tadi, maka dia selalu kekurangan. Analogi yang lain adalah ketika mengendarai sepeda motor dan berusaha mengerem tapi tidak berhasil secara sempurna seseorang kadang berbicara”remnya gak makan”. Bagaimana menjelaskan kata makan, kalau artinya menyatakan bahwa rem tidak berfungsi sebenarnya remnya berfungsi tapi tidak maksimal, tapi didefinisikan berfungsi pun juga tidak. Sama dengan cara kerja itu, tubuh yang ingin dipuaskan (symptom) tidak pernah bisa dimediasi oleh bahasa secara penuh maka dia hanya berupa metafor – metafor. Dalam tahap ini yang tidak terpuaskan adalah desire sehingga dia menuntut substitusi, atau dalam istilah bahasa adalah metonymy. Seseorang bisa lebih suka bilang “saya minum mizone” sebagai substitusi dari “saya minum air” karena dia haus yang merujuk pada tubuh yang ingin dipuaskan dahaganya.

Ayah dalam empat wacana tadi pun sangat mungkin lebih suka menyatakan  “anak saya masuk kedokteran” ketimbang  “saya puas ketika anak saya masuk kedokteran” padahal dibalik dia sebagai subjek yang terbelah tadi ada  “saya yakin hanya kedokteran yang mampu menjamin masa depan anak saya”. Tapi tentunya bahasa tadi hanya tampilan – tampilan, yang selalu menyisakan kekurangan, lacking, karena kelak ada ruang sisa yang membuat ayah ingin anaknya begini dan begitu, tidak berhenti disitu saja. Empat wacana yang fundamental ini juga berkaitan dengan produksi psikis pada subjek, yaitu subjek yang patuh (neurotic),[8] subjek yang bernegosiasi (perverse)[9] dan subjek yang menolak (psikosis)[10] yang bisa dikenali saat dirinya berinteraksi dengan yang simbolik (Lacan, 2001:215).

Konsep perversi akhirnya memberikan ilham pada Bhabha, seorang pemikir poskolonial, untuk menelurkan konsep ambivalence,[11] bahwa subjek yang terjajah tidak serta merta menerima imperialisme kultural yang didiskursifkan oleh penjajah seperti yang diujarkan oleh Edward Said dalam bukunya Orientalisme (1978), tapi subjek terjajah juga aktif memproduksi makna sehingga menimbulkan tindakan yang lebih negosiatif dalam memahami wacana yang dibawakan penjajah.

Lacan juga ditemukan pada tataran politik, master signifier digunakan oleh Laclau-Mouffe, pemikir politik sosial baru,  untuk menegaskan gagasannya dalam buku Hegemony and Socialist Strategy, Towards A Radical and Democratic Politics (1985) yaitu demokrasi plural radikal.[12] Gagasan Laclau-Mouffe adalah bagaimana menyatukan masyarakat agar tercipta masayakat politis kultural yang juga melibatkan wacana dari dalam yaitu penanda tuan. Tujuannya adalah menghimpun wacana hegemonic baru agar tercipta jalan keluar dari status ketidak beresan sosial karena adanya objek petit a yang sama.

D. Psikoanalisis, karya sastra sebagai tindakan

Perenungan selanjutnya adalah mencari relasi psikonalisa dengan karya sastra. Secara sederhana Lacan melihat bahasa sebagai akses menuju realitas simbolik , tapi perlu juga dicatat bahwa karena simbolik dikreasikan melalui bahasa yang sifatnya rentan dan arbitrer maka yang simbolik pun tidak pernah mutlak melekatkan dirinya dengan subjek maka disaat itulah kemungkinan akan hadirnya yang real menjadi mungkin (Zizek, 2008: 23). Hal ini senada dengan wacana analis dan wacana histeris Lacan yang nyatanya berusaha menentang simbolik sebagai master signifier. Jika begitu bahasa dalam sastra pun juga sangat mungkin menyimpan kemungkinan untuk menentang simbolik, karena sastra juga dimediasikan melalui bahasa. Sastra dalam hemat itu adalah alat untuk merebut kembali kekuasaan diri subjek atas kesemena-semenaan simbolik.

Zizek dan sastra sebagai tindakan

Pemikir yang juga sangat terpengaruh oleh pemikiran psikonalisa Lacan adalah Zizek. Psikoanalisis secara rigid ia gunakan untuk mengkaji karya sastra dan juga film (karya Lynch) yang dia afirmasikan sebagai tindakan. Tindakan ini dia tampilkan sebagai upaya pembebasan subjek dari segala objek yang dia cintai demi meraih tindakan bebas  (Zizek, 2000: 150-151). Hal ini kemudian diberikan suatu pemahaman bahwa tindakan karya sastra (baik bagi pengarang, maupun tokoh fiktif dalam cerita) ada dan dalam kondisi untuk melawan simbolik. Sebagai penekanan, yang simbolik bisa merujuk kepada individu, ataupun institusi yang mewakilinya (Robet, 2010:76-77). Artinya tindakan dalam sastra adalah konsekuensi symptom, tubuh yang ingin mendapatkan jouissance, melalui bahasa karena berbahasa juga merupakan tindakan.  Hal ini bisa sangat mudah dipahami ketika dikaitkan pada beberapa karya sastra seperti Les Miserable (1862) milik Victor Hugo yang menolak bahwa ex-narapidana seperti Jean Valjean secara sosial tidak bisa berubah menjadi orang baik, sehingga memberinya hak untuk menjadi manusia baru dalam rezim yang begitu ketat moralitasnya, seorang penjahat bisa berlaku baik adalah perilaku yang  tidak masuk akal, maka Valjean selama hidupnya selalu dikejar oleh Javert, polisi yang taat pada hukum serta institusi kepolisian (simbolik). Ada Juga karya Orwell yaitu 1984 (1949) yang menentang sistem otoritarian Nazi. Orwell pada saat itu bisa saja setuju pada simbolik tapi nyatanya dia justru mengintensifikasi pengalaman otoriterian yang buruk dan kejam melalui big brother dan the party dalam novelnya.

Subjek psikotik, Sri Tanjung dan Beloved

Bagian ini akan merujuk pada bagaimana psikonalisa diterapkan secara operasional untuk mengkaji karya sastra, baik dari segi cerita maupun pengarang. Analisa yang pertama dapat ditunjukan pada cerita rakyat Sri Tanjung sebagai sastra lisan. Sri Tanjung adalah istri dari Patih Sidopekso yang karena kecantikannya diam–diam Raja menaruh hati padanya. Patih Sidopekso lalu diutus untuk pergi dari istana demi mengemban tugas kerajaan, namun dimasa absennya, raja mengutarakan cinta pada Sri Tanjung. Sri Tanjung yang menolak cinta raja lalu difitnah oleh raja bahwa dirinya tengah digoda oleh Sri Tanjung. Patih Sidopekso lalu murka besar pada Sri Tanjung. Sri Tanjung yang tak berdaya lalu berjanji akan menceburkan dirinya ke sungai dan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Air sontak berubah menjadi wangi dan membuat Patih Sidopekso menyadari kesalahannya.

Peristiwa ini menjadi penanda bukan saja kezaliman seorang suami (Patih Sidopekso) tapi juga Raja yang lalim karena ditolak cintanya. Ini menegaskan adanya kekuasan simbolik, yaitu masyarakat patriarkis (master signifier) berikut institusinya (kerajaan) yang secara sadis merepresi istri. Pilihan bagi Sri Tanjung bisa saja mengikuti wacana tuan, ataupun mengikuti wacana universitas dengan menikah dengan raja, karena siapa yang tak ingin hidup dengan raja. Namun nyatanya Sri Tanjung menolak hal tersebut. Penolakan Sri tanjung juga tidak berhenti pada wacana analis dengan melihat adanya represi pada dirinya. Tapi sebaliknya Sri Tanjung justru sedang membawakan wacana histeris, dia sedang menolak rezim patriarkis, dan instutisinya yaitu kerajaan dengan menghadirkan dirinya sebagai objek petit a (a/agent) karena yakin selama ini dia terbelah karena hukum patriarkis suaminya, dimana master signifier mensyaratkan dirinya untuk patuh pada rezim patriarkis sebagai syarat jika ingin dicap sebagai wanita baik baik. Pada tingkat yang klimaks sebagai wacana histeris, kematian Sri Tanjung  ($) yang melawan suaminya (s1) nyatanya sulit didefinisikan. Subjek Sri Tanjung adalah subjek dimana dia tidak lagi bisa digolongkan apakah dia patuh mutlak pada master signifier dan s1 atau dia menolak. Sri Tanjung yang rela mati ke dalam sungai memiliki makna bahwa dia patuh pada suaminya, tapi disisi lain dia juga resisten pada kemampuan simbolik untuk mendefinisikan dirinya karena Sri Tanjung masih bisa bernegosiasi di ujung hayatnya yaitu membuktikan dirinya tidak bersalah dengan wanginya sungai. Disini juga sulit untuk melihat dia hanya sebatas perversi karena dia tidak patuh dan juga menolak seperti yang dilukiskan pada wanginya sungai. Kemungkinan dirinya dalam peristiwa tersebut bisa disebut sebagai subjek psikotik, subjek dimana dirinya mampu mengambil jarak pada yang simbolik (Zizek, 2008: 186). Subjek yang menjadi mediator antara pengalaman real dengan pengalaman simbolik menjadi hilang, relasi ini hanya bisa disebut sebagai tindakan radikal Sri Tanjung yang justru menimbulkan ketidakselarasan (discordance) ketika yang Real dengan realitas simbolik memunculkan objek sublim (Zizek, 2008: 2-3). Peristiwa pada subjek yang tidak bisa didefinisikan ini menjadi sebuah tanda bahwa simbolik pernah gagal dan memunculkan akan hadirnya subjek otentik, subjek yang pada dirinya segala relasi seperti yang real, yang imajiner dan yang simbolik menjadi tidak memiliki relasi yang tetap.

Peristiwa yang tidak bisa didefinisikan ini sering muncul pada karya sastra seperti halnya pada Beloved (1987) karya Tony Morrison, dimana Sethe, budak yang kabur bersama anaknya, rela membunuh anaknya sendiri karena dia tidak ingin  kelak melihat anaknya menjadi budak seperti dia. Sethe yang membunuh anaknya dilandasi oleh perasaan cinta tidak bisa dikategorikan dalam pengalaman secara fix, karena simbolik pasti menganggap keji perbuatan seorang ibu yang membunuh anak sendiri, tapi karena landasan perbuatan ini adalah cinta maka hal ini menjadi tindakan radikal. Peristiwa yang begitu pelik dan tidak terdefinisikan ini menjadi peristiwa dimana the real memanggil – manggil karena tidak bisa diungkapkan dalam bahasa (yang simbolik), sama seperti definisi yang real adalah fase dimana dunia belum terbahasakan (Zizek, 2008: 182). Dari segi pengarang Tony Morrison juga melakukan banyak tindakan radikal sehingga sulit mendefinisikan dirinya, pertama sebagai pengarang wanita berkulit hitam dia pernah menulis The Bluest Eyes (1970) yang melihat bahwa konstruksi kecantikan dan rezim patriarki mampu membuat gadis kulit hitam bernama Pecola mensulap dirinya menjadi seperti apa yang diinginkan yang simbolik dan membiarkan tubuhnya sebagai objek. Tentunya novel ini menggugah betapa Tony Morrison ingin menyatakan kalau kecantikan dan rezim patriarki tersebut adalah kekejaman. Tapi kemudian dia menulis novel berjudul Sula (1973) dimana tokoh utamanya merasa biasa saja ketika bersetubuh dengan pria kulit putih atau bahkan bersedia bersetubuh dengan pria kulit hitam kekasih teman karibnya. Dalam cerita ini tindakan Tony Morrison menjadi berubah jauh dari novel yang pertama sehingga konstruksi patriarki maupun feminis yang dia tolak kembali dia guncang. Pengarang, dalam hal ini Tony Morrison juga dapat disebut subjek psikotik dimana dia tidak ingin ditetapkan secara mutlak ataupun definitif  karena ada pengalaman yang real hadir berulang –ulang, walaupun dia berada pada tatanan simbolik yang ingin melabelinya “it (the real) exercises a certain structural causality, it can produce a series of effects in the symbolic reality of subject” (Zizek, 2008: 183).

E. Epilog: subjek, kebudayaan dan sastra yang tanpa final

Sebagai bentuk kebudayaan psikonalisa bisa menjelaskan bagaimana kebudayaan hadir sebagai alat menuju kepuasaan subjek, serta subtitusi demi mencapai yang real. Kebudayaan “dianggitkan” berdasarkan imajinasi yang merelasikan diri sebagai upaya identifikasi dengan kemelekatannya pada yang lain (the other/bukan diri). Secara posisi, budaya hanya bisa diakses melalui bahasa yang selalu serba kekurangan untuk mejawab desire. Subjek yang sadar bahwa dirinya kekurangan, lacking, terus memproduksi budaya walau harus menelan pil pahit karena desire sebagai yang tersisa (leftover) tidak akan pernah bisa hingga kepengalaman yang primordial, oceanic dan mitik ketika seperti saat diri bergabung bersama tubuh ibu yang penuh dan utuh, tanpa kekurangan. Walaupun begitu Lacan berharap subjek bisa memproduksi yang baru (kebudayaan) dengan tidak menjadi manusia seri dengan mengkabarkan wacana analis dan wacana histeris.

Gagasan Lacan ini diuraikan ulang oleh Zizek dalam wilayah sastra yang merelasikan bahwa jika bahasa adalah tindakan subjek untuk mengatasi symptomnya (tubuh yang ingin dipuaskan) maka karya sastra pun yang termediasi oleh bahasa juga merupakan tindakan bagi pengarang sebagai cara mengatasi symptomnya. Tak heran bila karya sastra dan ceritanya melalui penokohan sering berusaha untuk menyatakan fase psikis (real, imajiner, simbolik) ataupun skema odiepus untuk selanjutnya memberitakan wacana fundamental (tuan, universal, analis, histeris) didalamnya. Sebagai simpulan, Subjek, Kebudayaan maupun Sastra menjadi dimensi yang tak pernah usai dan terus menjadi, berkejaran dalam rangkain signifier-signifier demi mengungkapkan subjek ketidaksadaran.

* Makalah disampaikan dalam Workshop Psikoanalisis Sastra, diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya UNEJ bekerjasama dengan Matatimoer Institute.

Catatan akhir

[1] Freud menegaskan pengalaman oceanic sebagai pengalaman yang tak terbatas, it is a feeling which he would like to call a sensation of eternity, a feeling as of something limitless, unbounded, something  oceanic.  It is, he says, a purely subjective experience, not an article of belief; it implies no assurance of personal immortality, but it is the source of the religious spirit and is taken hold of by the various Churches and religious systems, directed by them into definite channels, and also, no doubt, used up in them”. Lihat, Freud, 1961:7.

[2] Oedipus, mitos karya Sopocholes, berusaha membunuh ayahnya agar dapat menikahi ibunya untuk menjadi raja.  Freud menegaskan bahwa bawah sadar kita bekerja seperti kisah Oedipus sehingga hasrat ini negatif dan harus ditekan sedangkan bagi Lacan Oedipus Kompleks lebih bekerja sebagai struktur simbolik yang dibatinkan melalui hukum ayah (phallus yang secara signifier kemudian menuntut kategorisasi dalam bentuk the imaginer, the real, dan  the symbolic)  hal ini terjadi sejak proses  pemisahan anak dengan tubuh ibu secara tragis. Lihat, Homer, 2005:  53-54.

[3] Lack adalah konsep kunci Lacan yang menunjukkan betapa subjek selalu dalam posisi kekurangan, memiliki lubang dalam segala model pemaknaan yang tidak pernah selesai, hal ini disebut lack (manque-à-être) atau dalam proposi neologisme english sebagai “want to be”. Maka Lacan secara tegas menyatakan  “It is around this hole, in which the support of the signifying chain is lacking in the subject, and which has no need, one notes, of being ineffable in order to be awe-inspiring,  that the whole struggle in which the subject reconstructed itself took place”. Lihat, Lscan, 2001: 156.

[4] Freud memberikan hemat tentang tahapan di mana tubuh berusaha menggabungkan dirinya dengan objek lainnya yang bukan tubuhnya demi mencapai kepuasaan, tubuh anak merasa dia adalah satu dengan ibunya tapi disisi lain dia menikmati dirinya juga parsial karena kenikmatan itu dihubungkan melalui objek lain yang dirasakan secara fragmentaris (menyusui:mulut, buang air besar:anus). Lihat,  Freud, 2005: 31

[5] Pendapat tentang ego tidak bisa dilepaskan dengan id maupun super-ego. Ego dianggap struktur yang dapat mendamaikan id maupun ego dengan menjadi jembatan. Ketika subjek dianggap irasional karena hasrat libido yang menggebu maka ego sebagai yang rasional harus bisa menyelaraskan segala keinginan yang meledak-ledak ini agar sesuai dengan norma atau kode sosial yang dia andaikan sebagai superego. Lihat, Thurschwell, 2000: 82.

[6] Fort da Game adalah permainan yang dijadikan acuan oleh Freud ketika dia melihat cucunya Ernts bermain gulungan benang (seperti benang layang-layang) yang dia lemparkan lalu menghilang, ketika benang ditarik kembali maka benang berikut alat penggulungnya juga kembali dan membuat dia senang. Tapi kesenangan Ernts hanya bersifat sementara maka benang itu dia lemparkan lagi kemudian ditarik lagi lalu demi mendapatkan kesenangan (tertawa) secara berulang – rulang. Lihat, 1990: 8-9.

[7] Lacan mengembangkan  pemikiran Hegel untuk menjelaskan relasi hubungan subjek selalu pada posisi master-slave, atau tuan budak. Subjek ketika mengalami symptom (cara tubuh mendapatkan kepuasaan sesuai dengan hukum ayah) selalu dalam posisi direpresi melalui relasi tersebut. Lihat, Lacan, 2001: 20.

[8] Neurotic adalah kategori subjek normal karena selalu melakukan internalisir atas yang simbolik. Lihat, Lacan, 2001: 61.

[9] Perverse adalah subjek  yang melakukan tindakan yang melibatkan simbolik (master signifier) tapi juga melakukan resistensi di tahap yang sama. Sebagai contoh, seorang percaya bahwa dia beragama tertentu dan agama bisa mendatangkan jouissance tapi dia tidak melakukan perintah agama secara mutlak. Ibid.hlm. 246.  

[10] Psikosis adalah peristiwa bahwa subjek tidak bisa merepresi dan menolak yang simbolik karena  tidak bisa merelasikannya (seriate) sehingga dai perlu disembuhkan. Ibid. hlm.13 &168.

[11] Bhabha sangat peka bahwa kolonialisme tidak selalu berjalan secara searah, subjek yang terjajah sangat mungkin bernegeosiasi, konsep ambivalence bisa menjadi rujukan bagaimana “kebenaran” wacana colonial selalu dapat ditunda  aspek  diksursifnya ”. The ‘true’ is always marked and informed by the ambivalence of the process of emergence itself, the productivity of meanings that construct counter-knowledges in media res, in the very act of agonism [struggle], within the terms of a negotiation (rather than a negation) of oppositional and antagonis-tic elements (Bhabha, 1994: 22). Posisi Lacan dalam paradigma poskolonial Bhabha juga dapat dilihat ketika fase cermin digunakannya untuk melihat posisi penjajah dan yang terjajah, sebuah posisi di mana kedua subjek selalu mengidentifikasi identitas diri mereka masing- masing dalam melancarkan wacana (Bhabha, 1994: 77). Walaupun begitu dalam tradisi poskolonial, Bhabha juga banyak terpengaruh psikiatri seperti Franz Fanon dan bahkan pemikir anti-Oedipus seperti Deleuze dan Guattari.

[12] Laclau-Mouffe memanfaatkan Psikoanalisis Lacan dan juga banyak pemikir lainnya untuk melihat bagaimana subjek politik dibentuk melalui master signifier baru dan proses sublimasi sehingga memunculkan cakupan yang yang lebih massif, persis seperti gagasan hegemoni. Artinya ini mengandaikan bahwa hegemoni bukan sekedar mendaftar kepentingan –kepentingan tapi juga memunculkan subjek politik. Lihat, 1985: vii.

Daftar bacaan

Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Fink, Bruce. 1995. The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance. Princeton: Princeton University Press

Freud, Sigmund.       1967. Civilization and its Discontent. New York: W. W. Norton & Company.

Freud, Sigmund. 1990. Beyond The Pleasure Principle. New York: W. W. Norton & Company.

Freud, Sigmund. 2005. Three Contributions to the Theory of Sex. Ebook. Project Guttenberg.

Homer, Sean, 2005. Jacques Lacan. London: Routldge.

Lacan, Jacques.  2001. Ecrits, A Selection. London: Routledge.

Robet, Robertus. 2010. Manusia Politik. Tangerang: Margin Kiri.

Said, Edward. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books.

Thurschwell, Pamela. 2000. Sigmund Freud. London: Routledge.

Žižek, Slavoj. 2000. The Fragile Absolute,or Why the Christian Legacy is Worth Fighting  For.London:Verso.

Žižek, Slavoj. 2008. The Sublime Object of Ideology. London and New York: Verso.

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »