Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Sep 30, 2016 in Abstrak | 0 comments

Kuasa dalam Wacana Karakter Ratu di dalam Film Frozen dan The Snow White And The Seven Dwarfs: Analisa Wacana Kritis

Chrisdianto Wibowo Kamandoko

 

Abstrak

Kajian ini ditujukan untuk meneliti kuasa dalam wacana karakter ratu di dalam film Frozen dan The Snow White And The Seven Dwarfs yang diproduksi oleh pembuat wacana yang sama, Walt Disney. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap sebuah kuasa yang tidak setara antara pihak-pihak yang berkuasa pada posisi ratu yang sama dalam mengontrol dan mengekang pihak-pihak yang lemah. Dalam hal ini, karakter ratu di Frozen yaitu Queen Elsa dan di film lainnya adalah The Queen. Teori-teori yang digunakan dalam kajian ini yaitu linguistik fungsional sistematik oleh Halliday (2004) terutama pada fungsi interpersonal termasuk pelibat wacana, makna interpersonal, dan mood. Selain itu, analisa wacana kritis oleh Fairclough (1996) bersamaan dengan teori wacana dan kuasa, juga digunakan untuk menemukan kuasa di dalam wacana lisan bersemuka (face to face spoken discourse) antara pihak-pihak yang berkuasa dan yang tidak dalam makna interpersonal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Queen Elsa dan The Queen sama-sama berkuasa dalam mengontrol dan mengekang pihak-pihak yang lemah walaupun pada asumsi pertama, The Queen lebih berkuasa dibandingkan Queen Elsa berdasarkan pada konteks waktu dan karakterisasi, juga berdasarkan pada analisa teks (tingkatan paling kecil). Akan tetapi, istilah berkuasa dalam kajian ini digambarkan oleh kedua ratu yang berhasil mengkontrol dan mengekang aksi, perasaan dan jawaban pihak-pihak yang lemah di dalam sebuah percakapan. Jadi, hubungan kuasa yang setara antara kedua ratu tersebut ditunjukkan dengan penggunaan beberapa ungkapan yang mempunyai makna tersembunyi sebagai pengontrol dan pengekang pihak-pihak yang lemah terkait dengan bagaimana fungsi bahasa yang berkerja di dalam klausa-klausa tersebut, dan juga hubungan sosial antara kedua ratu dan pelaku-pelaku lainnya sebagai pelibat wacana.

Kata kunci: kuasa dalam wacana, wacana lisan bersemuka, fungsi interpersonal, analisa wacana kritis

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate ยป