Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Nov 24, 2015 in Vol.4 Des 2014 | 0 comments

Mengerling Masyarakat Ekonomi Asean sebagai Forum Kerja Sama

Mengerling Masyarakat Ekonomi Asean sebagai Forum Kerja Sama

Dinamika BudayaBambang Trisilo Dewobroto
FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Pos-el: gajahdewo@yahoo.co.id
Judul Buku : Dinamika Budaya Indonesia dalam Pusaran Pasar Global
Editor : Novi Anoegrajekti, Sri Ningsih, S. Nawiyanto, Sudartomo Macaryus
Penerbit : Penerbit Ombak
Th Terbit/Hlm : 2014/xxii+1408; 16×24 cm
LITERASI
Volume 4 No. 2, Desember 2014 Halaman 224 – 227

Text Full : PDF

 

 

Pendahuluan Era pasar bebas ASEAN 2015 menimbulkan berbagai reaksi antara optimisme dan skeptisisme. Optimisme muncul karena Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (MEA 2015) merupakan forum kerja sama bangsa-bangsa yang
serumpun. Kerja sama tentu membuahkan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Skeptisisme muncul dengan mengukur kesiapan dalam menghasilkan produk unggulan yang layak pada tingkat regional tersebut. Akan tetapi, seperti apapun sikap dan reaksi yang muncul, MEA 2015 tetap terjadi. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah menghadapi aneka tantangan yang merupakan akibat lanjutan dari terbentuknya forum kerja sama regional tersebut.
Universitas Jember bekerja sama dengan Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (IKADBUDI) merespons bersama dengan menghimpun pendapat, potensi, dan harapan dari kalangan akademisi Indonesia melalui konferensi internasional. Dalam konferensi tersebut hadir pembicara utama dari Korea dan Swedia, serta pembicara utama dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Indonesia Jakarta, Sekolah Tinggi Hindhu Dharma Denpasar Bali, dan Universitas Jember. Ketujuh pembicara utama berbicara mengenai industri kreatif, modal budaya, keunggulan budaya, dan keunggulan
bahasa dan sastra. Budaya daerah yang tersebar di seluruh Nusantara dan dihidupi oleh masyarakat pendukungnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi industri kreatif.
Tiga Pengantar
Buku tersebut menyajikan tiga kata pengantar Editor, Rektor Universitas Jember, dan Direktur Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ketiga kata pengantar tersebut menunjukkan sikap kritis dalam menghadapi MEA 2015. Editor menyikapi dan mengingatkan agar forum kerja sama ASEAN tidak menjadi kerja sama predatorik. Geliat predatorik tersebut dapat dihindari bila negara menerapkan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut.
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pasal tersebut memungkinkan terwujudnya demokrasi ekonomi demi terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Selain itu juga sebagai langkah preventif menghindari pola hubungan yang bersifat predatorik.
Rektor Universitas Jember, dalam kata pengantar antara lain menyampaikan apresiasinya terhadap kebijakan pemerintah
mengenai industri kreatif. Fenomena besar di Jember dan Banyuwangi menjadi bukti bagaimana sebuah industri kreatif fesyen yang dikemas dalam Jember Fashion Carnaval (JFC) memiliki kemampuan menarik perhatian dunia. Hal yang sama terjadi di Banyuwangi yang selalu mengangkat tematema lokal dalam kegiatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Rektor Universitas Jember menyebutnya sebagai budaya kreatif lokal yang mengglobal. Fesyen telah terbukti mengangkat dan menjembatani potensi lokal ke panggung global. Bidang industri kreatif lainnya pun (periklanan, arsitektur, pasar seni & barang antik, kerajinan, desain, film-video-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan & percetakan, layanan komputer & peranti lunak, televisi & radio, dan riset & pengembangan), jika dikelola dengan sungguhsungguh
tentu akan menarik perhatian dunia. Semua itu demi terwujudnya kebudayaan yang mampu menyejahterakan masyarakat
pendukungnya. Dalam lingkup nasional, kata pengantar Direktorat Jenderal Kebudayaan berisi harapan agar kebudayaan juga memandirikan masyarakat pendukungnya. Hal tersebut dapat dicapai melalui upaya revitalisasi dan inovasi. Berbagai produk industri kreatif yang mendatangkan banyak orang merupakan peluang bagi masyarakat setempat untuk memperkenalkan berbagai produk dan keunggulan lokal, seperti keindahan alam, tempat bersejarah, kuliner, belanja, seni pertunjukan, dan cenderamata. Kerjasama saling menguntungkan atau simbiose mutualistik dan secara sinergis mewujudkan kemandirian masyarakat.

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »