Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted by on Nov 10, 2015 in Vol.1 Juni 2011 | 0 comments

MODERNITAS, LOKALITAS, DAN POSKOLONIALITAS MASYARAKAT DESA DI ERA 80-AN

Ikwan Setiawan
Fakultas Sastra Universitas Jember
Pos-el: setyokultura@yahoo.com

Abstrak
Menjadi modern dalam ruang lokal pada era 80-an merupakan proses rumit. Banyak masyarakat lokal mengalami dan memimpikan budaya modern sebagai formasi diskursif dominan sebagai akibat dari Revolusi Hijau, tetapi mereka masih meyakini dan menjalani budaya tradisional. Kebijakan pembangunanisme rezim Orde Baru mengakibatkan pergeseran dan perubahan sosio-kultural, baik di kota maupun desa. Artikel ini, dengan mengombinasikan cultural studies dan kajian poskolonial, akan membahas genealogi pergeseran dan perubahan sosio-kultural di sebuah desa ketika budaya modern masuk
ke dalam kehidupan masyarakat desa melalui program televisi publik, pendidikan, dan produk-produk industrial. Namun, saya melihat warga desa bisa bermain di ruangantara untuk mengapropriasi sebagian budaya modern dan menegosiasikan sebagian
budaya tradisional ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Keberantaraan kultural merepresentasikan dinamika poskolonialitas desa di bawah arahan rezim Orde Baru dan menjadikan modernitas sebagai impian ideologis bagi masyarakat desa dalam menganggit lokalitas mereka.

Kata kunci: masyarakat desa, modernitas, era 80-an, lokalitas, poskolonialitas

Post a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »